Yogya Itu Baik, Florence Sihombing

“Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti, artinya segala sifat buruk hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak.” – Unen-unen Jawa

MESKIPUN sudah cukup lama tidak pulang ke desa saya di Kalasan, 13 kilometer dari pusat kota Jogjakarta, saya tetap merasa saya orang Yogya. Meskipun banyak yang hijrah ke Jakarta, tapi saudara dan teman-teman sekolah pun masih banyak yang sekarang berkarya di sana. Menurut saya, Jogjakarta itu kota paling baik di Indonesia untuk dihuni. Masyarakatnya ramah, suka membantu, makanan murah, budayanya adiluhung. Hampir tidak ada catatnya, kecuali tentu saja harga tanah per meter perseginya yang kian lama kian mahal. Pendeknya, Yogya itu baik.

Oleh karenanya, tentu saja kaget rasanya saya dikabari Arman Dhani kalau ada orang yang berani menghina Yogya di Path. Saya cari infonya dan menemukan nama Florence Sihombing lengkap dengan screenshot Path. (Baca: Mengenal Florence Sihombing, Gadis yang menghina kota Jogja)

Tapi Yogya itu baik, Florence Sihombing! Saya masih percaya hal itu. Barangkali kamu tidak merasakannya saat di SPBU tempo hari. (Baca:Tidak Mau Antri BBM seorang wanita disoraki warga). Mungkin mereka yang menyerangmu di media sosial tidak paham kalau Florence Sihombing sedang sakit dan karenanya ingin lekas isi BBM dengan Pertamax 95. Maka akhirnya dituliskanlah postingan itu dengan rasa marah. (Baca: Ini Penjelasan Florence Soal Kejadian di SPBU yang Berujung Status Path)

Saya sempat tidak percaya ada reaksi masyarakat Yogya yang berlebihan sampai ingin mengusir segala. (Baca: Puluhan Warga Yogya Gelar Aksi Protes Terkait Status Path Mahasiswi) Masyarakat Yogya yang saya kenal tidak begitu. Masyarakat Yogya juga tidak akan mungkin mengusik kesukuanmu yang berbeda. Apalagi banyak teman saya terutama dari suku Batak hidup karib dengan saya sampai sekarang. (Baca: ‘Kicauan’ Florence Sihombing, Komunitas Batak di Yogyakarta Minta Maaf)

Namun sejauh saya mencoba membela Yogya itu baik, mungkin Florence Sihombing (dan mungkin banyak yang lainnya) akan tetap berkata sebaliknya. Lihat hujatan yang membuat stres karena terteror, sanksi yang akan diberikan dari UGM, serta pelaporan Fajar Riyanto LSM Jatisura ke polisi dengan delik aduan “pencemaran nama baik”.

Padahal Florence Sihombing sudah minta maaf. Ia minta maaf, baik di sosmed dan malah sekarang pengacaranya rajin mendatangi media-media di Yogya, mulai dari radio sampai koran. Menurut saya, hukuman sosial untuk Florence Sihombing sudah cukup. Tidak perlu ada pelaporan ke polisi, tidak perlu memenjarakan orang dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara hanya karena dalih mencemarkan nama baik.

Justru yang terjadi sekarang, segala tindakan main hakim, bullying, teror, penghinaan untuk Florence Sihombing telah mencemarkan nama baik Yogya. Sungguh, saya menyesalkan semua itu. Saya sebagai warga Yogya merasa malu atas tindakan-tindakan yang ditujukan untuk meneror Florence Sihombing. Yogya yang saya kenal adalah Yogya yang baik, yang mau memaafkan, yang mau mendengarkan, yang tidak gelap mata hanya karena perkataan buruk. Maka saya merasa perlu untuk meminta maaf kepada Florence Sihombing karena tidak bisa berhasil meyakinkanmu.

Barangkali tugas kita sekarang adalah menunjukkan kepada Florence Sihombing dan semua yang kelak menyatakan rasa tidak suka pada Yogya untuk menunjukkan Yogya itu baik, bukan malah seolah membela tapi membuat citra masyarakatnya jadi pendendam dan anti masyarakat pendatang. Mari?

[dam]

4 responses to “Yogya Itu Baik, Florence Sihombing

  1. Sepakat mas. Yogya itu penduduknya baik2 kok. Mungkin yaaa kemarin agak ‘panas’ dikit, karena pas BBM langka, eh, ada satu makhluk yang agak gimanaaaa gitu. hehehe

  2. Terimakasih Mas atas tulisannya yang menyejukkan. Saya selalu rindu Yogya yang ramah. Santun dan menyenangkan. Florence sudah salah. Sudah mengaku salah. Sudah mendapat hukuman sosial yang saya yakin cukup mengguncang jiwanya sebagai wanita. Maka saya usul kita maafkanlah Mbak atau adik atau anak kita yang salah itu. Untuk Mas dan Mbak di Jatisura. Mas dan Mbak sudah menjalankan tugas kontrol sosial dengan benar. Saatnya kita menunjukkan bahwa kita juga pemaaf. Salam Damai untuk Yogyakarta

  3. Karena yang marah bukan hanya orang jogja. Logikanya gini, kalo kejadiannya di Bandung, dia akan maki maki Kota Bandung, kalo kejadiannya di Semarang dia akan maki-maki Semarang. Makanya yang kesel bukan hanya orang Jogja, tapi dari kota lain juga kesel, makanya bisa sampe hujan caci makian.

  4. Bukan masalah dia sedang sakit pas isi bbm di spbu kemaren sehingga dia terburu2 ingin segera dilayani, tapi kemaren saya sempet liat twitternya ada beberapa twit lama dia yang menyatakan kalo dia emang udh kesel sama jogja udh lama. Jadi luapan kesel dan benci terhadap jogja ga hanya akibat kejadian kemaren aja…
    Florence emang udh keterlaluan ga bisa bijak menggunakan medsos, tapi kalo sampe di tahan ya lebay juga, sanksi sosial saja menurut saya sudah cukup membuat jiwa dia terguncang. Dan kasus ini dapat dijadikan buat pelajaran kita semua. :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s