Masih Pantaskah Kita Bersikap Netral?

The darkest places in hell are reserved for those who maintain their neutrality in times of moral crisis.” – Dante Alighieri

Dante Alighieri

Dante Alighieri

“TEMPAT tergelap di neraka menanti mereka yang mempertahankan kenetralan di saat krisis moral terjadi”, demikian kutipan dari penulis Dante Alighieri. Banyak orang kemudian mengartikan krisis moral yang dimaksud penulis Italia ini adalah perang, rasisme, dan bentuk-bentuk diskriminasi, dan korupsi. Banyak orang juga kemudian mencoba mengartikan kenetralan dengan sikap diam, tidak berbuat apa-apa, berpangku tangan. Beragam tafsir atas kutipan itu tidak mengurangi esensi bahwa ada persoalan yang harus segera disikapi di saat krisis dan kenetralan bukanlah solusi.

Saya berpikir kutipan tadi relevan untuk membaca situasi politik di Indonesia saat ini, hari ini. Ketika krisis moral terjadi di dalam kehidupan kita: diskriminasi, korupsi, penyeragaman, oligarki yang sudah tidak malu-malu ditunjukkan, dan bahkan dibanggakan. Ketika orang beribadah tidak lagi dilindungi, ketika orang berusaha tidak lagi mendapat kepastian, ketika pembunuhan dibenarkan, inilah krisis moral paling buruk.

Di saat krisis seperti ini, saya bertanya kepada diri saya sendiri: masih pantaskah netral? Masih pantaskah berdiam diri?

Ternyata saya sudah tidak bisa lagi bangga menjadi swing voter kalau situasinya sudah demikian genting. Saya sudah tidak bisa lagi diam melihat kenyataan buruk ini. Ini saat yang tepat untuk mengambil pilihan: saya harus ikut memperjuangkan ke-Bhinneka Tunggal Ika dan tegaknya hukum yang sama bagi semua orang.

Saya sendiri baru bisa menetapkannya kemarin, tepatnya pagi hari, 9 Juni 2014, sebulan sebelum pilpres. Selama ini saya berusaha cermat, mencari masa depan terbaik buat saya dan keluarga saya. Memang, meskipun terdengar naif, tapi itulah sejatinya makna pilihan kita. Pada saat berada dalam kotak pemilihan nanti, saat kita berdiri sendiri dan di tangan kita cuma ada kertas pilihan, sesungguhnya kita memilih bukan untuk Indonesia, kita memilih untuk masa depan kita sendiri.

Saya berpikir sejumlah isu penting yang harus terpenuhi: 1/. terjaminnya kehidupan Indonesia yang menjunjung ke-Bhinneka Tunggal Ika-an dan 2/. kepastian hukum yang sama bagi semua orang. Dua isu penting ini sangat relevan untuk saya dan keluarga saya yang minoritas dan posisinya lemah di hadapan orang yang berkuasa.

Namun manakala saya menonton Debat Capres tadi malam dan menyaksikan kedua kandidat pasangan capres berbicara, saya lalu berpikir memang seharusnya ada lagi isu ketiga yang jauh lebih penting: kepemimpinan yang memberi teladan. Keteladanan ini perlu ditunjukkan dengan memberi contoh, sehingga harus mencari pemimpin yang menjunjung ke-Bhinneka Tunggal Ika-an dan pemimpin yang menunjukkan ia sama seperti orang biasa di hadapan hukum.

Sementara isu 1 dan 2 saya bisa temukan pada kedua capres, meski berbeda dimensi dan janji, namun isu ketiga tidak saya temukan pada pasangan Prabowo dan Hatta. Pasangan calon tersebut malahan memberi contoh kebalikan: selama ini memperlihatkan secara gamblang menjadi penyokong kelompok intoleran dan main kuasa di hadapan hukum. Jadi cukup bagi saya bergembira, saya telah menetapkan pilihan yang tepat pada calon presiden/cawapres nomer dua.

[dam]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s