Bulan Mei dan Persoalan Yang Tak Kunjung Usai

Kita tak bisa memungkiri kenyataan, persoalan Mei adalah persoalan yang tidak pernah terselesaikan, sekalipun kita begitu ingin tumpukan persoalan ini tuntas diselesaikan agar kita bisa melangkah maju.

menolaklupa

INILAH bulan Mei, bulan pergerakan bagi Indonesia. Sejak tanggal 1 hingga akhir bulan, ada beragam aktivitas yang terjadi. Tanggal 1 diramaikan dengan Hari Buruh, itu artinya para buruh merayakan hari spesial ini — yang kemudian dinyatakan sebagai hari libur nasional di Indonesia sejak 2013 — dengan pewartaan bahwa perjuangan buruh untuk mencapai taraf hidup layak itu harus tetap digaungkan terus-menerus. Persoalan buruh masih jauh dari selesai. Semua kita tahu itu. Tanggal 2 diisi dengan perenungan tentang Hari Pendidikan. Dalam renungan dalam, kita mengenang bagaimana upaya pendidikan bagi pribumi diperjuangkan dulu dan didapat lewat Politik Etis di zaman Hindia Belanda, tetapi sekaligus kita meringis menatap persoalan Ujian Nasional yang tak kunjung usai. Tanggal 5 Mei sebagian orang mengenangnya sebagai hari lahir Karl Marx, yang karya-karya pemikirannya masih dilarang beredar dan diajarkan di Indonesia hingga sekarang lewat Tap MPRS/XXV/1966 tentang Larangan Penyebaran Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme. Tanggal 8 Mei, Marsinah buruh perempuan yang dibunuh dan ditemukan tewas di hutan di Dusun Jegong, Kecamatan Wilangan, Nganjuk, menyusul untuk diperingati dan persoalan HAM bagi aktivis yang dibunuh kembali mencuat. Di tanggal yang sama juga, masih terngiang peristiwa Gejayan, ketika pendudukan mahasiswa dan rakyat Yogya atas jalan Gejayan dibubarkan paksa oleh aparat dan Mozes Gatotkaca tewas menjadi korban. Tanggal 9 Mei, sejarah mencatat Henk Sneevliet mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), cikal bakal partai yang mendengar namanya sudah menciptakan fobia tersendiri. Tanggal sesudahnya kita akan diramaikan dengan persoalan penculikan dan hilangnya aktivis pro-demokrasi oleh operasi militer Indonesia yang dilakukan tiga tahap menjelang Pemilu 1997 di bulan Mei dan Sidang Umum MPR 1998. Persoalan kian blunder. Selain 13 aktivis yang hilang belum ditemukan, 9 yang dilepaskan seperti kubu yang terpecah.

Saya ingin berhenti sebentar untuk menambahkan beberapa informasi terbaru, juga sekaligus memunculkan persoalan lain. Bulan Mei 2014 menjadi berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di tengah persoalan pencalonan Prabowo Subianto sebagai presiden, tiba-tiba ucapan Mayor Jendral (Purn) Kivlan Zen di acara Debat TVOne 28 April 2014 menjadi bumerang bagi capres yang didukungnya. Mantan Kepala Staf Kostrad tersebut mengaku tahu di mana 13 aktivis itu ‘dihilangkan’

Dalam debat yang dipandu Alfito Deannova, Kivlan Zein secara berapi-api mengatakan, “Yang menculik dan hilang, tempatnya saya tahu di mana, ditembak, dibuang.” Bahkan, Kivlan mengatakan, jika nanti disusun sebuah panitia untuk menyelidiki lagi kasus penghilangan 13 aktivis itu, dia bersedia bersaksi. Tak urung, ucapannya itu kemudian merembet cepat membakar hutan yang selama ini kelihatan gelap dan penuh misteri.

Mencuatnya informasi Kivlan Zein ini sempat saya tanyakan kepada Mugiyanto dari Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI) apakah apa yang keluar dari mantan Kakostrad 98 bisa menjadi temuan baru yang mendorong diketemukannya ke-13 aktivis yang hilang. Mugiyanto adalah salah satu dari mereka yang diculik dan kembali. Ketika itu Mugiyanto berstatus mahasiswa Fakultas Sastra, UGM, Yogyakarta, dan berusia 25 tahun. Mugi tentu orang yang tepat saya tanya, karena IKOHI punya fokus kerja selama 16 tahun untuk menyelesaikan persoalan ini. Menurut Mugiyanto, Kivlan Zein ini sudah pernah dipanggil dan pernah membeberkan keterangan perihal penculikan aktivis kepada Komnas HAM dan informasi yang disampaikannya ‘aneh’. Itu berarti, pemanggilan kembali Kivlan Zein bisa dijadikan sebuah petunjuk bagi Komnas HAM dan Kejaksaan Agung untuk mengurai informasi ‘aneh’ tersebut berdasar keterangan terbaru Kivlan bahwa ia tahu di mana lokasi ke-13 aktivis yang diculik tersebut.

Persoalan tidak berhenti sampai di sana karena bila benar Kivlan Zein selaku Kakostrad pada Mei 1998 mengetahui informasi ini, berarti ada informasi yang selama ini tidak pernah disampaikan secara jujur dan terbuka kepada para penyelidik kasus pelanggaran HAM ini. Oleh karena itu, Komnas HAM bisa melakukan penyelidikan kepada Wiranto selaku Panglima ABRI sekaligus juga kepada Prabowo selaku Pangkostrad. Karena berdasarkan keterangan Kivlan Zein, aksi penangkapan/pengamanan ini atas perintah Feisal Tanjung yang kemudian diganti Wiranto sebagai panglima ABRI. Saya pikir setelah 16 tahun persoalan ini terjadi, sudah saatnya ada titik terang yang bisa dijadikan batu pijakan untuk penyelesaian persoalan ini di masa depan. Paling tidak, kejelasan nasib 13 aktivis itu diketahui: apakah dibunuh, atau kapan ditembak, lalu di mana dikuburnya? Selama ini kita mendapat informasi dari kawat Wikileaks 1761 bahwa para aktivis tersebut dikubur di bawah aspal landasan bandara, sebagaimana kutipan ini “There are rumors that some of these were buried beneath the asphalt of the airport highway.” Namun, penyelidikan dan pembuktian akan menjawab persoalan ini.

Kembali ke hari-hari di bulan Mei. Pada 12 Mei, peringatan Tragedi Trisakti mengenang 4 mahasiswa yang ditembak dengan peluru tajam pada bulan Mei 1998 karena ingin menyampaikan aspirasi dari kampus mereka di Grogol ke gedung DPR/MPR. Lalu berturut-turut 13-15 Mei mengemuka kembali persoalan Kerusuhan Mei 98 yang hingga sekarang penyelesaiannya cenderung diabaikan.

Saya mengajak lagi untuk membaca laporan investigasi Asiaweek yang dirilis pada 24 Juli 1998. Laporan tersebut ditulis oleh Susan Berfield dan Dewi Loveard. Susan Berfield pada masa itu bertugas untuk Asiaweek Hongkong dan saat ini bekerja pada Bloomberg. Laporan investigasi Asiaweek ini diberi tajuk: “Ten Days That Shook Indonesia” — judul yang segera mengingatkan kita pada buku yang ditulis oleh jurnalis John Reed tentang Revolusi Oktober di Rusia pada tahun 1917 berjudul Ten Days That Shook The World. Agaknya Susan Berfield ingin memberikan kesan ia ada dan terlibat pada 10 hari yang mengubah Indonesia itu sejak 12 Mei 1998.

Dalam laporan tersebut, Susan Berfield secara gamblang membeberkan teori konspirasi mengenai apa yang terjadi saat itu dan semua terpusat pada Prabowo Subianto selaku mastermind. Teori yang tentu saja perlu dicermati, ditelaah, dan dikembangkan atau dicampakkan. Sampai sejauh ini, teori ini pernah dibantah oleh Fadli Zon yang memakai penanda tanggal yang sama 12-22 Mei 1998 dan ditulis dalam buku berjudul Politik Huru-Hara Mei 1998 dan terbit pada 2004 lewat lembaga yang dipimpinnya. Tahun 2013 lalu, buku ini diterbitkan ulang lagi. Teori konspirasi baru dikembangkan dengan menunjuk hidung Wiranto. Tapi tentu saja, buku ini juga digunakan untuk membantah berbagai buku memoar lain yang ditulis oleh Habibie dan Sintong Panjaitan. Sampai hari ini, simpang siur teori konspirasi ini membingungkan dan tampaknya kesempatan untuk mendapatkan kejelasan justru pada hasil temuan Tim Ad Hoc Komnas HAM 2006 yang sudah dibundel dan siap dijadikan materi persidangan HAM. Tapi sayang, hasil temuan ini sampai sekarang tidak bisa diakses oleh publik.

hoaxadhocham2006Sementara itu, rupanya ketidakpastian hukum mengenai penyelesaian kasus penculikan aktivis dan kerusuhan Mei 1998 ini dimanfaatkan untuk menyebarluaskan kebohongan kepada publik. Sebuah informasi yang saya yakini palsu diedarkan kepada publik dan mengakibatkan kesesatan informasi perihal hasil temuan Tim Ad Hoc Komnas HAM 2006 tentang penghilangan paksa. Darimana keyakinan tersebut muncul? Karena sebenarnya kita bisa membaca Ringkasan Eksekutif dari hasil temuan Tim Ad Hoc Komnas HAM 2006 tentang penghilangan orang secara paksa 1997-1998 lewat pusat data ELSAM. Silakan dibandingkan sendiri bahwa persoalan kompleks tersebut tidak mungkin disampaikan hanya lewat selembar kertas kesimpulan sebagaimana yang beredar luas saat ini.

Tanggal 20 Mei saat orang mengingat gerakan pemuda dan slogan Kebangkitan Nasional kemudian bisa saja meluas menjadi nasionalisme ultra-kanan atau bisa jadi pemujaan pada negara sendiri ala “right or wrong my country” sebetulnya bisa menjadi sebuah cerminan bagaimana kita selama ini memahami persoalan kepemudaan dan perubahan sosial secara serba tanggung dan canggung. Ketika golongan tua tidak mau memberi kesempatan bagi yang muda untuk memimpin, ketika investasi pada orang-orang muda oleh negara hanya diwujudkan dalam bentuk seremonial dan artifisial tanpa pernah menyentuh persoalan konkrit bagi para pemuda Indonesia saat ini: pengenalan politik lewat institusi pendidikan, edukasi kesehatan reproduksi seksual sejak dini, sikap toleran pada perbedaan dan lainnya.

Lalu pada 21 Mei nanti ketika Hari Reformasi ditetapkan berdasar pengunduran diri Soeharto sebagai presiden setelah 32 tahun memerintah adalah hari dimana kita betul-betul harus bertanya pada diri kita sendiri: bagaimana persoalan bisa terselesaikan bila masa depan bangsa ini diserahkan pada orang-orang yang terlibat dan berada dalam pusaran masalah Mei 1998 itu sendiri.

Persoalan-persoalan di bulan Mei ini terlalu lama dibiarkan. Maka sebenarnya ketika kita berbicara ingin maju ke depan — tanpa pernah menyelesaikan persoalan-persoalan ini — adalah masturbasi saja.

[dam]

Sumber tulisan:

Debat TV One – Episode Capres Pelanggar HAM 28 April 2014

Mugiyanto mencari keadilan – BBC Indonesia: http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2013/04/130415_tokoh_mugiyanto.shtml

Kawat Wikileaks 1761: https://www.wikileaks.org/plusd/cables/08JAKARTA1761_a.html

Ringkasan Eksekutif Laporan Tim Ad Hoc Penghilangan Orang Secara
Paksa: http://www.elsam.or.id/downloads/970006_LAPORAN_EKSEKUTIF_KASUS_PENGHILANGAN_PAKSA.pdf

Ten Days That Shook Indonesia (Asli): http://www-cgi.cnn.com/ASIANOW/asiaweek/98/0724/cs1.html

Sepuluh Hari Yang Menggoncang Indonesia (Terjemahan): http://danudika.wordpress.com/2012/08/07/sepuluh-hari-yang-mengguncang-indonesia-tragedi-mei-1998-asiaweek-investigation-24th-july-1998/

7 responses to “Bulan Mei dan Persoalan Yang Tak Kunjung Usai

  1. penasaran dg tindak lanjut atas paparan KZ.
    Tapi, ah, bingung pada pemilu kini. kita dihadapkan pd pilihan Prabowo atau Jokowi yg di belakangnya -kupikir- rezim Mega pun sepantasnya tahu rahasia di balik kekacauan yg terjadi, terutama pada zamannya.

    • Kita pantas mempertanyakannya karena itu hak kita sebagai warga negara untuk tahu nasib warga yang lain. Tetapi jauh lebih mudah bertanya itu kepada Jokowi daripada kepada Prabowo nantinya. Kenapa? Karena Prabowo tidak punya itikad mengusut tuntas kasus-kasus Mei 98 ini.

    • Kerusuhan Mei 98 adalah kerusuhan dan pelanggaran HAM dan kemanusiaan yang luar biasa bengis dan biadab, yang mencoreng muka Indonesia di mata dunia. Pilihan sudah sangat jelas: Jokowi jelas tidak terlibat. !!! apa lagi yang dipusingkan? salam peace…

  2. @bg damar juniarto, setuju dengan pernyataan anda: “bagaimana persoalan bisa terselesaikan bila masa depan bangsa ini diserahkan pada orang-orang yang terlibat dan berada dalam pusaran masalah Mei 1998 itu sendiri”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s