Forum Tata Kelola Internet Dunia 2013: Dari Pengguna Menjadi Pengelola

Saat pertama kali saya memakai internet sempat muncul perasaan takut. Bunyi saat dial-up yang aneh setelah kabel telepon tertancap ke modem lebih terdengar seperti masuk ke dalam terowongan mesin daripada bunyi yang enak didengar. Perasaan takut itu, kemudian disusul dengan perasaan bingung.

IGF-2013-Bali-Indonesia

IGF-2013-Bali-Indonesia

ENAM belas tahun lalu, tepatnya pada tahun 1996, saya datang ke Pameran Komputer di daerah Senayan, Jakarta dan mulai mendaftarkan diri untuk pertama kalinya menjadi pelanggan internet. Sebenarnya pionir provider jasa internet/Internet Service Provider (ISP) adalah IndoNet (PT Indointernet), kemudian disusul Radnet (PT Rahajasa Media Internet) yang lahir pada 1994, tetapi seingat saya, ISP yang saya pilih adalah MegaNet (PT Meganusa Lintasbuana) karena harga berlangganan per bulannya terbilang lebih murah dibanding yang lain dan ada program diskon 50% untuk mahasiswa.

Terus terang, saat pertama kali saya memakai internet sempat muncul perasaan takut. Bunyi saat dial-up yang aneh setelah kabel telepon tertancap ke modem lebih terdengar seperti masuk ke dalam terowongan mesin daripada bunyi yang enak didengar. Perasaan takut itu, kemudian disusul dengan perasaan bingung. Pasalnya, karena sejak tersambung ke internet, saya tidak tahu harus ke alamat situs mana. Dulu, belum ada peramban Google. Baru ada Altavista dan Yahoo. Bekal lain untuk browsing adalah alamat-alamat situs yang saya hapal luar kepala dari buku/majalah yang saya baca, lalu mulai berselancar lewat peramban Netscape.

Begitulah awal kisah saya sebagai pengguna internet. Ketakutan menggunakan internet lama-lama hilang, justru saya malah terbiasa. Selama 16 tahun, saya telah menggunakan internet untuk korespondensi, belajar, mencari bahan untuk menulis, kebanyakan jurnal ilmiah, dan mencari kontak baru. Saat itu saya berharap hak untuk mengakses informasi di internet bisa menjadi hak yang dimiliki oleh semua orang tanpa perlu membayar mahal, tidak seperti pada saat pertama kali saya mengalaminya.

Tahun 1998 ketika informasi dikontrol begitu ketat oleh pemerintah Orde Baru, bersama para mahasiswa yang mendukung kebebasan berpendapat, kami mendirikan Majalah KQ – Kampus Kita dengan tujuan menyediakan informasi alternatif dari distorsi informasi yang dilakukan pemerintah. Sejak saat itu saya percaya internet juga bisa mendatangkan perubahan yang lebih baik pada kehidupan manusia Indonesia. Bukan percaya pada infrastruktur dan teknologinya yang pesat, tetapi saya percaya pada bila manusia memanfaatkan internet untuk kepentingan-kepentingan yang lebih besar dari nafsu duniawinya sendiri maka akan tercipta hal yang baik lewat internet.

Meskipun MegaNet yang menyediakan jasa internet saya itu tutup, lalu modem sudah tidak perlu berisik saat dial-up, dan kini era internet tersedia tak hanya di kota, saya masih mendukung semangat yang sama itu. Dibekali semangat yang sama, saya juga sering menggunakan internet untuk mendorong kampanye publik: Stop Bakar Buku, Selamatkan Pustaka Jaya, Pak Raden Ngamen.

Sampai tiba saatnya, pada bulan Februari 2013, saya mengalami sendiri bahwa internet ternyata bisa juga mencelakai saya sebagai pengguna biasa. Untuk pertama kalinya, sebagai blogger ternyata saya beresiko bisa dipenjara karena tidak ada payung hukum yang bisa melindungi bilamana ada orang yang mau memolisikan saya hanya karena tulisan/pernyataan yang saya pernah tulis di Kompasiana/blog/social media. Hal ini membuat saya kembali mempertanyakan keyakinan saya sendiri bahwa internet bisa mendatangkan perubahan yang lebih baik pada kehidupan manusia. Mengapa ada aturan yang represif seperti itu? Siapa yang sebenarnya berhak mengatur internet? Siapa yang bisa menjamin orang tetap berhak menyatakan pendapatnya di internet? Bagaimana mengatur persoalan konflik di internet?

Dari Pengguna Menjadi Pengelola
Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi motivasi saya untuk ikut terlibat bersama teman-teman blogger setanah air untuk mendirikan Southeast Asia Freedom of Expression Network/SAFENET pada Juni 2013 di Denpasar, Bali. Sebagai jaringan blogger dan aktivis internet, SAFENET melakukan tekanan publik atas maraknya kasus-kasus yang mencederai kebebasan berpendapat online di Asia Tenggara, juga termasuk Indonesia.

Dari aktivitas pemetaan yang dilakukan SAFENET, saya akhirnya tahu bahwa ada lebih dari 25 orang di Indonesia yang sudah pernah terancam kebebasan berpendapatnya di internet. Itu artinya, saya tidak sendiri. Itu artinya juga, tanpa upaya serius untuk melindungi blogger dan aktivis internet, deretan jumlah orang yang terancam kebebasan berpendapatnya akan bertambah banyak.

Untuk menaikkan isu ini ke publik, secara aktif SAFENET sudah menyuarakan persoalan kebebasan berpendapat online lewat kampanye #Gara2UUITE, mendampingi kasus yang sedang berlangsung, dan terakhir selama Internet Governance Forum/Forum Tata Kelola Internet Dunia 2013 di Nusa Dua, Bali, aktif menyuarakan kampanye “Protect Our Freedom After Speech”.

Protect Our Freedom After Speech/Safenet

Protect Our Freedom After Speech/Safenet

Hati-hati Bicara Atau Masuk Penjara/Antonemus Safenet

Hati-hati Bicara Atau Masuk Penjara/Antonemus Safenet

Di Internet Governance Forum 2013 inilah, jawaban atas pertanyaan saya ditemukan. Bahwa ternyata pemerintah bukan satu-satunya pengelola internet. Internet haruslah dikelola melibatkan banyak pihak, seperti pihak swasta dan masyarakat sipil. Kasus-kasus yang muncul mengenai pencemaran nama baik dan filtering justru terjadi karena pengelolaan internet melulu dikuasai oleh negara. “Power tends to be corrupt!” dan karena itu, pengelolaan internet menjadi berat sebelah. Dalam kasus pencemaran nama/defamasi misalnya, lebih banyak menguntungkan mereka yang merasa namanya dihina daripada melindungi mereka yang kritis menyuarakan masalah sosial. Ini tentu saja menjadi bukti, internet di Indonesia harus segera dikelola secara lebih terbuka, lebih adil, lebih aman dengan melibatkan banyak pihak (multi-stakeholder approach).

Sebagai pengelola informasi di balik posisi saya sebagai Managing Editor IGF 2013 Daily News, saya juga mendapatkan banyak isu baru yang menjadi persoalan utama dalam pengelolaan internet di Indonesia. Persoalannya bukan saja pada tidak meratanya akses internet, tidak terlindunginya kebebasan berpendapat para netizen, tetapi juga pada fakta bahwa internet di Indonesia rentan pada penyadapan/surveillance. Temuan Citizen Lab di sini jelas menimbulkan rasa khawatir. Jika penyadapan tidak digunakan secara bijak, akan terjadi penyalahgunaan wewenang yang merenggut kebebasan berpendapat netizen.

Memang IGF 2013 sudah resmi berakhir pada 25 Oktober 2013 lalu. Dari penyelenggaran 5 hari tersebut, saya belajar sangat banyak hal baru tentang tata kelola internet. Yang jelas, masa depan internet, dengan kita terlibat aktif sebagai pengelolanya, lebih terjamin bagi perubahan yang lebih baik bagi kehidupan manusia.

[dam]

2 responses to “Forum Tata Kelola Internet Dunia 2013: Dari Pengguna Menjadi Pengelola

  1. masih inget nggak ente, semasa kita “nyolong” bandwith-nya Deptan dari akun yang dikelola ama Pilar? :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s