Mei 98: 15 Tahun Lalu, Kini dan Masa Depan

“Ceritakan Sekali Lagi” dimulai dengan gambar pasukan Unit Reaksi Cepat (URC) dari kepolisian dan Pasukan Penindak Rusuh Massa (PPRM) dari tentara sedang berhadap-hadapan dengan mahasiswa-mahasiswi Trisakti pada 12 Mei 1998. Di tangan mereka, senjata mengarah ke atas. Di sisi lain, mahasiswa bergolak. Lalu muncul tulisan di tengah layar, sebuah puisi pendek yang saya tulis:
Ingatan akan peristiwa Mei ’98 / Yang satu susah melupakan / Yang lain tak mau diingatkan // Yang satu merasa ketakutan / Yang lain mau menghapuskan

15 Tahun Mei 98

Rabu Perempuan: 15 Tahun Mei 98

MENGAPA pada 15 tahun setelah kejadian Mei 98, saya masih merasa menjadi bagian dari yang susah melupakan itu. Kenangan itu ada di jauh di ingatan sana, seringkali tenggelam dalam aktivitas sehari-hari, namun ia bisa hadir dengan leluasa di hadapan saya kini dan masih akan lama hadir di masa depan. Kehadirannya masih dengan gugatan yang sama: sebenarnya apa yang terjadi?

Saya ingat, belum lagi genap sebulan bertanya dengan dua orang sahabat saya sembari melampaui senja, apakah mereka sungguh tahu apa yang terjadi pada kejadian 15 tahun lalu itu. Jawab keduanya berbeda. Seorang menjawab tidak terlalu yakin, malah sudah lupa. Sedang yang satu lagi, menjawab tahu, tetapi hanya sebatas yang ia tahu saja dari sejumlah diskusi yang pernah dilakukan. Dari pertemuan itu, terbit usulan untuk mengumpulkan kisahan Mei ’98 dari ingatan banyak orang. Saya menjawab apa yang akan dilakukan itu nantinya bukanlah sesuatu yang lurus dan pasti benar seperti halnya sebuah pelajaran sejarah, tetapi bagian dari bersejarah: harus tetap dialektis. Dan untuk melakukan hal tersebut, bukan hal yang sederhana. Lagipula bagaimana jika ada banyak yang berupaya untuk ‘melupakan’?

Sejak pertemuan dengan dua sahabat saya itu, setiap kali makan siang saya selalu bertanya kepada teman-teman kantor saya: apa yang mereka ingat pada kejadian Mei ’98. Karena usia mereka jauh lebih muda, semula saya tidak terlalu banyak berharap. Akan tetapi, yang saya temui: justru karena mereka masih SD atau SMP pada waktu Mei ’98, mereka bisa menghadirkan situasi yang tak pernah bisa dibayangkan oleh mahasiswa yang saat itu sedang larut dalam gerakan menghancurkan Orde Baru.

Sebut saja, Rani, mengingat kejadian itu terjadi saat ia SD dan ia ingat setiap kali harus berangkat sekolah, harus mendapat kejelasan dulu apakah jalanan aman atau tidak dari kerusuhan/demonstrasi. Kerap kali ia harus berdiam di rumah, setelah ayahnya mendapati ada perusuh yang dikabarkan akan datang ke daerah rumahnya di Sunter. Kawan semeja kami, Mira, punya kisah lain lagi. Waktu Mei ’98 itu ia masih SMP dan sekarang ia punya kesaksian atas peristiwa Mei ’98. Ia katakan pada saya, ada sejumlah anak yang kini usianya 15 tahun yang hidup bersama kita dari mereka yang dulunya diperkosa. Ia menemui anak dan ibunya di gereja tempat ia sembahyang. Yang saya temui dalam obrolan makan siang itu bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. Ia nyata, senyata berbagai kisah yang barangkali pernah didengar orang.

Sama nyatanya dengan apa yang direkam dan ada dalam “Ceritakan Sekali Lagi”. Cerita dari banyak orang itu, yang sengaja nama dan posisinya tidak dicantumkan agar kita tidak bias dalam menilai informasinya, mewakili sebuah narasi sejarah dari ingatan kolektif banyak orang. Seingat saya, saya menemui banyak orang, meminta mereka bercerita apa yang mereka ingat tentang Mei ’98: orang biasa, cendekiawan, aktivis, orang yang saya kenal. Ternyata baik 5 tahun bahkan 15 tahun kemudian, kisahan mengenai Mei ’98 tetap ada. Itu berarti saya bukan satu-satunya yang susah melupakan.

Mungkin saja banyak orang sudah lelah untuk mengharapkan perubahan. Wajar saja. Ada banyak lagi yang mengatakan yang berlalu biarlah jadi bagian dari masa lalu. Tetapi semua itu kemudian menjadi tak ada artinya setiap kali saya menatap anak saya, yang usianya akan 5 tahun bulan Juli nanti. Menatap mata polos itu, saya tak ingin ia dan generasinya mengalami apa yang pernah saya dan banyak orang di negara ini alami pada kejadian 15 tahun lalu. Jangan sampai terulang kembali.

Itu sebabnya, saya mengundang siapapun yang tertarik untuk datang menyaksikan “Ceritakan Sekali Lagi” dan berbagi apa yang diingat tentang Mei ’98 untuk hadir pada acara RABU PEREMPUAN bertema “MEI ’98: 15 Tahun Lalu, Kini dan Masa Depan” pada hari/tanggal: Rabu, 15 Mei 2013 pukul: 17.00-19.00 WIB bertempat di Kedai Tjikini, Cikini Raya 17.

[dam]

Rilis “Ceritakan Sekali Lagi” Ceritakan Sekali Lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s