Membangun Sendiri Rumah Pembaca Indonesia

Klub pembaca pertama di Indonesia muncul tahun 1872 dengan tujuan membangkitkan kebiasaan membaca di kalangan priyayi terdidik. Dari klub-klub pembaca itu kemudian lahir pemimpin pergerakan yang menjadikan Indonesia merdeka. Kini, zaman telah berubah. Tiba saatnya dibangun rumah yang bisa menampung lebih banyak pembaca dari daya upaya sendiri agar kelak lahir pemimpin baru untuk Indonesia.

Pembaca Indonesia (Sumber: kepergokmembaca.wordpress.com)

Pembaca Indonesia (Sumber: kepergokmembaca.wordpress.com)

KETIKA Politik Etis (Ethische Politiek) diterapkan di Hindia Belanda, pendidikan Barat segera mengalir deras masuk ke masyarakat dan melahirkan golongan elite modern Indonesia atau priyayi terdidik. Dari mereka ini, menjelang awal tahun 1870-an, lahir pers dalam bahasa sendiri di kota-kota penting di Jawa dan luar Jawa. Lambat laun, pertumbuhan dan ekspansi pers berlangsung juga di kota-kota pesisir, yakni kawasan pemukiman para pembaca multirasial, dan lingkungan perkotaan.

Kemudian lahir undang-undang pendidikan pada tahun 1871 dan membuat lebih banyak sekolah pribumi didirikan. Surat kabar mulai berperan sebagai sumber pengetahuan, terutama di kalangan priyayi yang haus pengetahuan. Berkat propaganda lewat pers tentang pentingnya pendidikan, perkumpulan dan klub-klub para priyayi mulai bermunculan pada tahun 1872 dengan tujuan khusus membangkitkan kebiasaan membaca di kalangan priyayi terhormat. Para priyayi di Karesidenan Tegal misalnya, memulai klub seperti itu dengan menarik iuran sebesar 50 sen dari setiap pembaca yang bergabung untuk digunakan secara rutin membeli buku-buku cerita dan berlangganan surat kabar berbahasa Melayu dan Jawa. Klub ini membolehkan anggotanya meminjam buku dan membaca surat kabar milik klub. Di klub ini mereka bertukar pendapat, berbagi gagasan, dan memulai melakukan inisiatif-inisiatif perubahan.


Dari tahun 1872, klub pembaca muncul dari zaman ke zaman dengan beragam inisiatif perubahan dan kemudian darinya mulai pergerakan nasional dan para pemimpinnya. Soekarno tergabung dalam Studi Klub Bandung yang didirikan Iskaq Tjokrohadisuryo. Sjahrir ikut dalam Tjahja Volksuniversiteit, gerakan pendidikan melek huruf secara gratis bagi anak-anak dari keluarga tak mampu.

Gerakan mahasiswa 1998 juga tak lepas dari kelompok-kelompok studi yang menjamur di tahun 1980-1990. Kelompok studi itu tak ubahnya kelompok pembaca, mereka membaca dan kemudian mendiskusikan nasib bangsanya. Lalu bagaimana situasi klub pembaca 140 tahun kemudian?

Yang Dihadapi Pembaca Sekarang

Keberadaan pembaca Indonesia seringkali tertutup kalimat “minat baca rendah” yang kerap diucapkan di mana-mana. Kalimat itu mengandung banyak implikasi, salah satunya sebuah asumsi yang jamak tertanam di kepala banyak orang bahwa jumlah pembaca di Indonesia juga rendah. Tolok ukur yang digunakan pemerintah dan barangkali pelaku industri buku adalah daya serap buku yang rendah, dihitung dari jumlah buku yang dicetak serta tingkat pembelian buku di toko buku yang tahun ke tahun kian menurun.

Pemerintah dan barangkali pelaku industri buku tidak pernah melihat aspek lain yang juga perlu diperhatikan: kemunculan pembaca baru pasca penetrasi cerita fantasi Harry Potter, lahirnya banyak penulis baru lewat kursus-kursus menulis dan teknologi cetak yang murah, dibukanya banyak taman bacaan masyarakat, dan klub pembaca yang semakin kuat posisinya.

Terhadap yang terakhir itu ada sejumlah klub pembaca yang perlu diperhitungkan keberadaannya secara nasional: Goodreads Indonesia, Klub Buku Indonesia, Blogger Buku Indonesia, Komunitas Baca Buku. Kenapa perlu diperhitungkan, karena masing-masing klub pembaca ini mempunyai jaringan pembaca minimal di 5 kota di Indonesia, yang besaran anggotanya bervariasi. Yang juga membuat klub-klub pembaca ini perlu diperhatikan adalah adanya aktivitas rutin yang diadakan secara mandiri. Mereka melakukan kegiatan yang hampir sama seperti yang dilakukan para priyayi yang duduk di klub pembaca 140 tahun lalu: berkumpul dan berbagi.

Tetapi para pembaca ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan 140 tahun lalu: buku yang kian mahal harganya karena biaya pajak dan harga kertas, monopoli distribusi buku, praktik bestsellerisme yang membuat jenis buku yang diterbitkan jadi seragam, promosi buku yang rendah. Koran dan media massa yang 140 tahun lalu rajin mengajak orang untuk membaca sudah tidak ada lagi di zaman ini. Tantangan yang semacam inilah yang dihadapi sehari-hari oleh klub pembaca yang ada.

Bersyukurlah dalam situasi yang nyaris buntu ini, masih lahir sejumlah inisiatif yang melegakan hati. Goodreads Indonesia mengusung Festival Pembaca Indonesia dan melahirkan ulasan yang jujur dari para pembaca. Klub Buku Indonesia rajin berbagi informasi tentang penulis Indonesia. Blogger Buku Indonesia secara konsisten mengulas berbagai buku yang telah terbit. Komunitas Baca Buku mendiskusikan buku sekaligus menghadirkan penulisnya secara langsung. Tetapi apakah semua itu cukup untuk mengatasi tantangan yang kian tahun kian berat?

Kerugian Akuisisi Goodreads oleh Amazon Untuk Kita

Sementara itu, jauh di Amerika Serikat sana terjadi akuisisi situs Goodreads.com oleh Amazon pada 29 Maret 2013. Akuisisi ini disambut gembira oleh Otis Chandler selaku founder Goodreads. Ia menilai akuisisi akan menguntungkan para pembaca karena nantinya akan ada integrasi antara perangkat baca Kindle terbaru dari Amazon dengan sistem rekomendasi Goodreads yang lahir dari penilaian jujur 16 juta anggotanya di seluruh dunia.

Di kalangan anggotanya, akuisisi ini menimbulkan dua kelompok besar: mereka yang merasa dirugikan dan mereka yang merasa tidak dirugikan. Sebelum melangkah lebih jauh, benarkah ada kerugian yang muncul dari akuisisi Goodreads oleh Amazon?

Mereka yang merasa tidak dirugikan berargumen akuisisi ini tidak akan mengubah apapun dari Goodreads, sama seperti halnya yang terjadi pada Internet Movie Database (IMDb) setelah diakuisisi Amazon. Otis sendiri bahkan menjamin tidak akan ada perubahan di Goodreads selama orang-orang lama masih bertahan di posisi semula. Argumen ini harus dihargai mengingat memang isi kesepakatan antara Goodreads dan Amazon masih belum final hingga semester ketiga tahun 2013 ini.

Mereka yang merasa dirugikan memiliki argumen akuisisi ini telah mencampuradukkan antara independensi pembaca dan sifat monopolistis Amazon. Amazon sedang berupaya melakukan monopoli atas ekosistem baca, yang hulu hingga hilirnya dikuasai oleh modal besarnya. Selama beberapa tahun belakangan ini mulai 1998, Amazon secara masif telah mengakuisisi sistem rekomendasi seperti Shelfari, Librarything, hingga Mobipocket, Zappos, Stanza dari Lexcycle, dll. Dari sekian itu, beberapa dipertahankan, namun lebih banyak yang kemudian redup namanya setelah diakuisisi. (Lihat tabel akuisisi Amazon 1998-2009). Karena upaya monopoli inilah, mereka bereaksi karena tak ingin Goodreads dirugikan.

Tabel Akuisisi Amazon 1998-2009

Tabel Akuisisi Amazon 1998-2009

Argumen lain yang diajukan oleh mereka yang merasa dirugikan adalah praktik “pereview boneka” Amazon yang dikhawatirkan akan merusak sistem rekomendasi Goodreads yang selama ini digadang-gadang terbaik dan jujur. Tetapi argumen yang lebih penting untuk diajukan adalah dilepaskannya kemampuan utama Goodreads untuk merekam jejak minat baca 16 juta anggotanya ke Amazon.

Sistem tracking minat baca ini yang bekerja merekam setiap kali anggota Goodreads mengisi data buku yang baru selesai dibaca dan ingin dibacanya mampu membuat mapping “insight” per individu, mapping “insight” per genre bacaan, hingga mapping “insight” per negara. Alangkah sayangnya bila mapping “insight” ini kemudian digunakan oleh Amazon saja untuk memasarkan produk-produknya sendiri dan memotong banyak pihak yang juga punya kepentingan menyuplai buku yang baik untuk dibaca pembaca. Itu tadi kerugian di tingkat individu pengguna Goodreads.

Di tingkat komunitas, kerugian akan semakin dirasakan karena pada akhirnya komunitas-komunitas yang tumbuh di dalam Goodreads malah akan semakin melanggengkan praktek monopoli Amazon. Komunitas juga harus hidup bersama dengan para reviewer boneka yang keberadaannya mencemarkan independensi mereka. Bagaimana mungkin bisa mempertahankan status independen saat di ruang yang sama hidup juga pereview boneka?

Apa yang terjadi di Goodreads ini tentu saja akan punya dampak pada salah satu klub pembaca di Indonesia: Goodreads Indonesia. Meskipun belum mengambil sikap atas akuisisi Amazon, tidak ada salahnya bila mulai sekarang mewaspadai perkembangan Goodreads ke depan. Bila menjurus ke situasi merugikan para pembaca, tindakan yang tepat perlu dilakukan oleh moderator Goodreads Indonesia.

Syukurlah situasi ini tidak terjadi di Klub Buku Indonesia yang berbasis di Twitter, Blogger Buku Indonesia yang berbasis di penyedia blog, dan Komunitas Baca Buku yang berbasis di Facebook. Namun harap disadari bahwa klub-klub pembaca ini semua berdiri di “lahan orang” yang bisa sewaktu-waktu seperti halnya Goodreads akan diakuisisi atau bahkan meredup seperti halnya reputasi Friendster. Padahal di situasi sekarang ini, kehadiran klub pembaca ini masih dibutuhkan paling tidak sampai berpuluh-puluh tahun ke depan untuk melahirkan pemimpin Indonesia.

Mengapa Tidak Membangun Rumah Sendiri?

Dari sinilah terlontar pertanyaan: Mengapa tidak membangun “rumah maya” sendiri bagi pembaca Indonesia? Sebuah rumah pembaca yang dibangun di “lahan sendiri” yang mendekati kemampuan Goodreads, Twitter, Facebook, Blogspot/Wordpress tetapi dengan interface berbahasa Indonesia, dengan database buku-buku berbahasa Indonesia, dengan kemampuan yang mampu menjawab kebutuhan pembaca-pembaca Indonesia, dan yang paling penting independensinya bisa kita jaga bersama-sama. Mengapa tidak membangun sebuah “rumah maya” yang mengerti apa yang paling dibutuhkan pembaca Indonesia? Lontaran pertanyaan-pertanyaan ini tentu menarik untuk dijawab.

Menurut saya, kita sudah perlu membangun rumah sendiri. Kita membutuhkan rumah sendiri untuk menghadapi masa depan perbukuan ke depan yang tantangannya kian berat. Sebuah rumah yang interfacenya nyaman dan ramah, yang mampu membuat mapping minat baca pembaca yang bergabung di tingkat individu, lokal, regional, hingga nasional, yang berdiri netral dan hanya bersetia menjadi suara pembaca paling jujur.

Menurut saya, kita pun mampu membangun rumah sendiri ini asalkan ini mendapat dukungan banyak orang, dari semua kita yang merasa berkepentingan untuk mempertahankan keberadaan klub-klub pembaca ini agar kelak lahir pemimpin baru untuk negeri ini.

Tapi itu menurut pendapat saya pribadi. Yang lebih penting di saat ini, bagaimana menurut pendapat Anda. Saat ini, saya sudah memulai langkah pertama dari upaya membangun rumah maya pembaca di Indonesia ini dengan menyebarkan ajakan gotong royong.

Bila tertarik untuk bergotong royong, silakan isi formulir ini di https://docs.google.com/forms/d/1TPQroNb0HyHlkE0p_wVk-iHB0iimoBGgIKVIKkCfZFQ/viewform

[dam]
Seorang pembaca buku di Indonesia

SUMBER:

Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaraan KeIndonesiaan
Ahmat Adam, Jakarta: Hasta Mitra 2003

Exciting News About Goodreads: We’re Joining the Amazon Family!
http://www.goodreads.com/blog/show/413-exciting-news-about-goodreads-we-re-joining-the-amazon-family

The Future of Goodreads under Amazon Ownership
http://www.digitalbookworld.com/2013/the-future-of-goodreads-under-amazon-ownership/

History of Amazon acquisitions and investments
http://ebookfriendly.com/2013/03/28/history-of-amazon-acquisition-and-investments-chart/

4 responses to “Membangun Sendiri Rumah Pembaca Indonesia

  1. Menarik idenya, memang kita perlu satu rumah bersama. Tapi lagi-lagi itu berarti segala macam infrastruktur perpustakaan (bentuk nyata) juga harus ada dunk mas. Semisal Indonesia Buku di Jogja. Anehnya kenapa tidak masing-masing daerah, anak mudanya, dibantu komunitas dan warga tentunya bersama-sama menggerakkan budaya literasi dan mempergunakan perpustakaan daerah. Saya rasa perpus daerah itu punya potensi, sayang tak ada yang mau menyentuhnya.

    salam kenal mas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s