Kenangan Setiap 31 Maret

Setiap kali kalender menunjukkan tanggal 31 Maret, sesaat itu juga berlomba-lomba muncul kenangan tentang Bapak, seperti gulungan ombak yang menghampiri pantai, lalu tatkala satu demi satu usai tiap deburannya mendaratkan cerita di pantai ingatan saya. Tanggal 31 Maret memang hari kelahiran Bapak, maka di hari inilah lahir kembali kisahan tentangnya lewat tulisan ini.

image

Kepada anak saya, foto Bapak saya tunjukkan sambil memperkenalkannya pada kakek yang tak pernah ia jumpainya itu.

“Ini kakekmu, Nak, ayah dari bapakmu, ” ujar saya sembari menunjuk pas foto hitam putih Bapak, berkemeja putih lengkap dengan kumis baplang di wajahnya. Kumis yang mengingatkan anak saya pada eyangnya yang masih hidup dan pada orang Madura.

Bapak memang berdarah Madura dan semasa hidup saya cukup banyak mendengar kisah-kisahnya. Ia kerap cerita akan masa kecilnya yang harus ikut hidup membiayai 9 adiknya dari keluarga yang terpisah karena perang dan ideologi.

Sejak kakek tersingkir akibat program nasionalisasi Benteng dari kepala pabrik gula menjadi pengumpul barang rongsokan di Pasuruan hingga Madiun, Bapak harus sekolah sambil bekerja sebagai pesuruh di sebuah hotel kecil di Madiun. Ia mencari uang dari menjual gelas berisi teh, kopi, susu untuk tamu-tamu hotel di sela tugas utamanya membersihkan hotel. Itu tambahan uang yang sangat berarti untuk kakek yang penghasilannya tak menentu. Ia membagi penghasilannya yang tak seberapa itu untuk semua sekaligus untuk menghadapi kenyataan pahit perginya Nenek bersama adik terkecilnya karena tak tahan pada penderitaan.

Biaya pendidikan ia dapat dari “mengajar” anak-anak orang kaya. Mengajar mungkin kata yang diperhalus Bapak. Mungkin lebih tepatnya, ia disuruh mengerjakan PR karena Bapak lebih tekun belajar daripada anak-anak orang kaya itu. Dari mereka pula, Bapak sering mendapat lungsuran baju, celana, sepatu bekas untuk diri sendiri dan adik-adiknya.

Perjuangannya di masa kecil menuntun Bapak ke masa depan yang lebih baik. Bahkan Bapak dikenal sebagai pimpinan yang memiliki visi dan punya kualifikasi terbaik di bidangnya. Semesta menunjukkan kearifan dan rasa sayang padanya. Saya temukan itu dalam sebuah foto yang memperlihatkan Bapak dan Ibu berdiri di sebuah taman di kota Paris, Perancis.

Bapak memang tak kenal anak saya, bahkan juga keponakan-keponakan saya yang lahir lebih dulu daripada anak saya. Sebabnya, Bapak telah meninggal saat belum ada satupun dari ketiga anaknya menikah. Ketika Bapak wafat, saya masih setia jadi demonstran meskipun Soeharto sudah jatuh tahun ’98. Bahkan sehari sebelum wafatnya, saya masih berdemo Hari Buruh Internasional di gedung DPR/MPR menuntut kenaikan upah dan perbaikan kesejahteraan. Tapi dengan kepergiannya, surut sudah aktivitas politik saya dan saya berhenti dan mulai fokus pada hidup saya sendiri.

Ditinggal Bapak secara mendadak, hidup jadi penuh tantangan. Tak ada lagi tempat mengadu dan meminta tolong. Tapi hidup harus dilakoni dengan sebaik-baiknya. Saya bersyukur punya teladannya saat menjalani gelombang hidup: Bapak saya sendiri. Ia tetap mengarunginya hingga sampai di tujuan.

Kini 13 tahun sesudahnya, ibu dan 2 kakak saya sudah menyusul Bapak. Tinggal saya dan 4 (sebentar lagi 5) cucu yang akan terus mengenang hari lahir Bapak sebagai simbol perjuangan hidup tanpa lelah dan keluh kesah.

Selamat ulang tahun, Bapak! Dari anakmu yang selalu mengenangmu dengan penuh rindu.

[dam]

2 responses to “Kenangan Setiap 31 Maret

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s