Pengakuan Internasional Laskar Pelangi: Antara Klaim Andrea Hirata dan Faktanya

Label “International Best Seller” yang dasar penetapannya tidak jelas ini ternyata dipergunakan Andrea Hirata untuk mengolok-olok sejarah sastra Indonesia selama kurun kurang dari seratus tahun.

DELAPAN tahun setelah terbitnya Laskar Pelangi melalui penerbit Bentang Pustaka dilansir kabar yang sangat menyenangkan untuk didengar. Andrea Hirata, penulis kelahiran Belitung yang menulis seri kisah anak lelaki bernama Ikal dari pulau Belitung yang miskin tetapi akhirnya sukses, aktif mengabarkannya lewat beragam media, baik mainstream maupun akun media sosialnya. Pertama, ‪Farrar, Straus and Giroux‬ (selanjutnya disingkat FSG) akan mencetak Laskar Pelangi di bulan Februari 2013. Andrea Hirata adalah penulis pertama dari Indonesia yang mendapat kesempatan dari penerbit yang terbiasa mencetak karya-karya sastrawan dunia. Kedua, Laskar Pelangi mendapat pengakuan sebagai “International Best Seller”. Ini didasarkan atas pencantuman label di bagian atas sampul Laskar Pelangi terbitan dari negara Turki.

Kedua kabar ini tidak secara serentak diberitakan, mainkan bertahap disampaikan. Semua mulai bergulir sejak terjemahan Laskar Pelangi lebih dulu dicetak oleh penerbit-penerbit di luar Indonesia, seperti Penguin Books dan Random House dan kemudian dipasarkan ke lebih dari 20 negara. Siapapun orang Indonesia pastilah bangga mendengarnya. Jarang sekali, bukan berarti tidak ada, penulis Indonesia menorehkan prestasi demikian.

Malahan, sebagai publisis yang bergerak di bidang buku dan film, saya nyatakan terbitnya Laskar Pelangi telah mengubah lanskap sejarah penerbitan dan perfilman. Di penerbitan, Laskar Pelangi telah tercetak lebih dari 5 juta eksemplar lewat ritel resmi dan di pasar gelap mencapai 15 juta eksemplar. Itu artinya, dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, 20 juta eksemplar dimiliki oleh pembaca. Booming karya Laskar Pelangi melahirkan genre yang dinamakan Novel Otobiografis atau biasanya saya sederhanakan artinya menjadi “novelisasi kisah hidup sendiri”. Sontak, penerbit berlomba mencari penulis yang mampu mengangkat kisah hidupnya dan sedapat mungkin dijadikan novel, hanya untuk mengikuti tren yang muncul karena Laskar Pelangi. Di film, kisahnya kurang lebih sama. Lewat tangan kreatif Mira Lesmana, Riri Riza, dan Salman Aristo sebagai penulis adaptasinya, film Laskar Pelangi mencetak angka penonton yang masih tercatat sebagai angka paling tinggi: 4.606.785 (Catatan Filmindonesia.or.id dari laporan jaringan 21 Cineplex). Sampai tahun 2013 ini, angka penonton ini hampir saja dilampaui oleh film Habibie & Ainun dengan jumlah penonton sebanyak 4.207.864. Sama halnya seperti di penerbitan, booming Laskar Pelangi menderaskan pengadaptasian buku-buku bestseller lain di Indonesia, bahkan bisa dikatakan “film adaptasi” adalah pilihan yang dipertimbangkan produser bahkan melampaui film horor.

Kalau tidak karena pernyataan sensasional yang disampaikan Andrea Hirata pada Selasa, 12 Februari 2013 dan dimuat di sejumlah media nasional, saya masih dalam kerangka berpikir yang sama. Karena pernyataan itu juga saya kemudian melakukan pengecekan ulang atas semua yang pernah dinyatakan Andrea Hirata mengenai pengakuan internasional atas karya Laskar Pelangi.

Klaim Penulis?
September 2012, Andrea Hirata memberitakan dirinya telah ditandatanganinya kontrak perjanjian dengan pihak penerbit FSG. FSG adalah sebuah penerbit yang dianggap sebagai penerbit terakhir yang hanya menerbitkan karya sastra dan terkenal karena daftar para penulis yang diterbitkan melaluinya, mulai dari karya fiksi sastra, narasi non-fiksi, puisi, hingga sastra anak. Nama-nama pemenang Nobel Sastra seperti Hermann Hesse, T. S. Eliot, Yasunari Kawabata, Aleksandr Solzhenitsyn, Pablo Neruda, Camilo José Cela, Nadine Gordimer, Mario Vargas Llosa. Begitu juga pemenang Nobel Perdamaian, tetapi yang pasti adalah para penulis pemenang anugerah sastra bergengsi Amerika Serikat Pulitzer. Nama-nama mulai Oscar Hijuelos, Michael Cunningham, Jeffrey Eugenides, hingga Marilynne Robinson ada di antara nama-nama penulis lain. Ini berarti Andrea Hirata adalah penulis pertama dari Indonesia yang bekerjasama dengan FSG.

Sebagai publisis, beruntung bahwa saya memiliki informasi yang membuat saya mampu melakukan pengecekan ke pihak penerbit. Saya melakukan pengecekan ke FSG dan Bentang Pustaka. Fakta yang menarik adalah Laskar Pelangi yang kemudian diterjemahkan menjadi The Rainbow Troops dicetak oleh Sarah Crichton Books, imprint dari FSG, yang menerbitkan beragam karya sastra dan fiksi dan non-fiksi komersil. Sarah Crichton Books menekankan pada sisi komersil. Imprint ini mencetak The God Factor karya Cathleen Falsani tahun 2006 dan karya Ishmael Beah berjudul A Long Way Gone bestseller dan buku pilihan Starbucks tahun 2007.

Screen shot 2013-02-13 at 8.47.49 PM

Dari informasi ini, saya melihat ada perbedaan besar antara FSG dan imprint Sarah Crichton Books. Sederhana saja, nama-nama penulis yang bekerjasama dengan Sarah Crichton Books nyaris nama-nama penulis yang asing terdengar dan di luar dari nama pemenang penghargaan Nobel/Pulitzer. Daftar penulisnya bisa dicek di: http://www.boomerangbooks.com.au/publisher/Sarah-Crichton-Books

Ketika hal ini saya tanyakan kepada CEO Bentang Pustaka Salman Faridi lewat wawancara telepon, secara mengejutkan, penerbit tidak mengetahui perihal ini. Salman tetap menyebutkan bahwa Laskar Pelangi dicetak oleh FSG dan bukan oleh imprint, dan bukan didasar atas pertimbangan komersil.

Berdasarkan fakta ini, ada detil kecil yang tidak disampaikan kepada kita sebagai pembaca/publik oleh Andrea Hirata. Informasi mengenai imprint dipotong dan diklaim bagian FSG hanya untuk kepentingan pencitraan (marketing), seolah-olah benar ada seorang penulis dari Indonesia yang telah kontrak dengan FSG.

Tetapi klaim ini kalah apabila dibandingkan dengan pernyataan Andrea Hirata berikut ini. Dalam konferensi pers Selasa, 12 Februari 2013 mengenai pengakuan “International Best Seller” dari Turki, yang dihadiri oleh media-media nasional, dilansir ucapan: “Hampir seratus tahun kita menanti adanya karya anak bangsa mendunia, tapi Alhamdullilah hari ini semua terbukti setelah buku saya menjadi bestseller dunia.” (Metronews.com)

Pengakuan Internasional?
Penerbit Turki bernama Butik Yayinlari menerbitkan Gokkusagi Askerleri dengan mencantumkan status “International Best Seller” di bagian atas sampul. “Untuk meraih predikat ‘International Best Seller’ di luar negeri tidak mudah. Paling tidak penjualan buku tersebut mencapai 70 persen di setiap negara yang menerbitkannya,” demikian disampaikan Andrea Hirata kepada pers (Antaranews.com). Tentu saja, saya langsung mencoba mencari data yang diperlukan atas apa yang disampaikan oleh penulis ini. Bagaimana faktanya?

Ketika Andrea Hirata menyatakan bahwa hampir seratus tahun tidak ada pembuktian ada karya anak bangsa mendunia, dengan mudah saya kategorikan Andrea Hirata lagi-lagi sedang melakukan klaim. Karena faktanya tidak benar demikian. Pengakuan internasional untuk karya sastra dari Indonesia tak terbilang banyaknya. Pramoedya Ananta Toer pernah mendapatkannya, bahkan sampai hari ini baru dirinyalah sastrawan dari Indonesia yang dinobatkan sebagai kandidat peraih Nobel Sastra. YB Mangunwijaya juga mendapatkan pengakuan internasional. NH Dini, yang hampir menjadi kandidat Nobel juga termasuk. Jadi klaim Andrea Hirata ini terdengar sangat mengolok-olok dirinya sendiri. Andrea Hirata telah mencederai sejarah dunia sastra Indonesia dengan menyebutkan tidak ada karya anak bangsa mendunia dalam kurun waktu hampir seratus tahun.

cover-turki-edit3Satu-satunya klaim yang mendekati kebenaran adalah soal “International Best Seller”. Paling tidak, menurut saya, Andrea Hirata membawa bukti berupa sampul Laskar Pelangi versi Turki. Maksudnya mendekati kebenaran, menurut Salman Faridi, ada kemungkinan pencantuman “International Best Seller” di sampul versi Turki berdasarkan keterangan dari Cathleen Anderson dari Cathleen Anderson Firm, agen yang berhasil menjual Laskar Pelangi. Kemungkinan besar karena Laskar Pelangi berhasil dijual Cathleen ke beberapa negara dan ada beberapa negara yang cetak ulang. Tetapi Salman tidak bisa merinci negara mana saja. Dari berita, hanya Vietnam saja yang mencetak ulang. Lalu mana daftar negara lainnya?

Tetapi masih terlalu cepat menyimpulkan kalau ini juga klaim. Maka saya mencari informasi mengenai kriteria “International Best Seller” dari penulis Maggie Tiojakin, yang akrab menggeluti karya-karya sastra internasional. Maggie menjelaskan kriterianya adalah cetak ulang di beberapa negara, biasanya di atas 10 negara. Setelah mendengar keterangan ini, saya menghentikan kegiatan saya untuk mencari informasi lebih lanjut. Saya tidak setuju label “International Best Seller” yang dasar penetapannya tidak jelas ini kemudian dipergunakan untuk mengolok-olok sejarah sastra Indonesia, ini memprihatinkan.

Kedepankan Kejujuran
Berhadapan dengan media, memang membutuhkan news peg yang menarik. Sebagai publisis, saya paham betul apa yang dilakukan Andrea Hirata tidak lebih dari strategi marketing untuk mencitrakan dirinya sebagai penulis Indonesia berkelas dunia. Personal branding dibangun dengan membalut diri dengan informasi-informasi yang fantastis, sama seperti kisah Ikal yang ditulisnya.

Tetapi sebagai publisis, saya berpikir strategi marketing bagi penulis Andrea Hirata dengan segala klaim yang dikatakannya selama ini beresiko. Resiko yang tak seharusnya terjadi bilamana mencuat kebenaran yang sesungguhnya. Resiko yang tak perlu muncul juga seandainya Andrea Hirata lebih bijak menempatkan dirinya. Resiko ini bukan hanya berlaku bagi penulis sendiri, tetapi juga akan mengikutsertakan penerbit, juga seantero industri penerbitan dan perfilman. Pasti kita semua tidak ingin ini terjadi bukan? Maka kedepankan kejujuran, wahai Andrea Hirata.

[dam]
Publisis buku di Tanam Ide Kreasi (@scriptozoid), Moderator komunitas Goodreads Indonesia 2008-2010, pembaca aktif.

70 responses to “Pengakuan Internasional Laskar Pelangi: Antara Klaim Andrea Hirata dan Faktanya

  1. Karena berbicara tentang pendidikan…novel ini laris. Coba saja beberapa buku berbicara pendidikan..banyak yang best seller, termasuk Toto Chan.

    Tapi memang terlalu LEBAY, kalau novel ini disebut sebagai sebuah karya sastra spektakuler. Kalau karya sastra komersial, saya setuju. Tapi kalau spektakuler…rasanya belum mampu menandingi Siti Nurbaya, Salah Asuha, Layar Terkembang, Belenggu, dan Padang Ilalang di Rumahku…. Justeru, saya lihat Dee Lestari yang bisa mengemas diksi dengan apik dalam beberapa karya2nya dan bisa dibilang karya sastra spektakuler…

      • samapi saat ini, saya belum nonton filmnya sampai selesai.
        kalau novelnya belum pernah pegang juga sih :p

        eh tapi bang, jangan menjatuhkan kesemangatan para penulis Indonesia donk.
        saya setuju dengan tulisan ini yang membahas “kesombongan”, eh tapi lihat berita kyk e si abang menindas kesuksesan orang lain :D

        kabur deh…

  2. Hooo baru tau, jadi maksudnya label internasional best seller itu belum tepat di berikan. Ada kriteria yang kurang.

  3. Saya baca LP dan saya menikmati cerita-ceritanya. Saya hanyut di dalamnya. Bagi saya, cerita-cerita LP itu khas Andrea, dan dia mengembangkannya dari tradisi Bualan. Namun, secara literer, ia masih banyak sekali kelemahan, di antaranya anakronisme. Masa bocah yang tinggal di sebuah daerah terpencil tahu nama latin sebuah bunga. Tentu saja, ini bukan berarti tak mungkin. Hal ini dimungkinkan kalau memang ada penjelasannya. Tapi, sepanjang novel itu, sama sekali tak ada penjelasan. Jika saja Andrea menulis bahwa saat itu sudah ada Indonesia Mengajar, ya mungkin. Wong para Pengajar Muda itu membawa revolusi pengetahuan ke daerah-daerah yang sangat terpencil sekalipun. Pendeknya, secara cerita ia tak koheren. Masih banyak kejanggalan lain. Saya kira, soal kelemahan literer ini sudah banyak yang membahasanya.

    Makanya, ketika saya mendengar bahwa ia best seller, saya kira harus dilihat versi dalam bahasa lain, apakah kelemahan-kelemahan itu sudah diselesaikan? Bila belum, saya ragu dengan klaim best seller international.

    Beberapa waktu lalu, saya dengar kabar dari salah seorang penulis mantan wartawan bahwa Andrea menjadi nominator nobel sastra. Ia dapat kabar dari salah satu media internasional yang bermarkas di New York. Setelah saya dan beberapa teman saya cari informasi ini, ternyata tak ada berita tersebut. Informasi ini isapan jempol belaka.

    Bahwa dia best seller, ya baiklah. Tapi, kalau ia coba-coba menyandingkan dirinya dengan karya para penulis macam Pramoedya Ananta Toer (nominator nobel sastra), Ahmad Tohari, Danarto, saya kira ia sedang menggali lubang kuburannya sendiri.

  4. Saya kira tulisan ini terlalu berlebihan, sebagai pelaku indie hal ini dalam prinsip saya tak dibenarkan.

    Secara pribadi saya tidak akan menghargai sastra atau karya lain selain apa yang bisa di nikmati. Andrea termasuk orang yang berbakat dalam hal ini, apa yang di sampaikan selain mengalir halus juga di kuasainya dengan baik, dalam hal menyampaikan informasi penulis untuk pembaca.

    Selain itu sandangan National Best seller dan pengakuan internasional itu adalah hal wajar yang didapat, selain itu hal ini memang benar. Mohon saudara cek lagi kata-kata tentang klaim tersebut.

    Sastra akan dihargai, karena keindahan bahasa dan penyampaiannya, makanya juga karya2 Indonesia terdahuli mendapat pengakuan, karean memang nilai keindahannya dapat diterima oleh pembaca.

    Yang lebay itu justru belakangan klub-klub sastra yang mengatasnamakan Pecinta sastra tapi kenyataannya “pecinta sejarah sastra”.

    Bagaimana tidak, bahasa yang digunakan tergolong purba dan sulit dimengerti. Ini seperti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Seperti menerapkan nilai artistik film klasik yang terlalu berlama-lama dalam pengambilan sudut dengan film modern yang tergolong cepat.

    Saya justru tidak menyukai pendapat saudara dalam artikel ini, jelas saya mengakui karya lain pada jaman dahulu yang mana sesuai dengan zamannya. Dan untuk karya seperti ini jelas sangat sesuai dengan zaman sekarang.
    bila saudara lihat bahkan saya berani mengatakan , mulai dari gaya penyampaian, penulisan dan kata yang di pilih merupakan gaya yang benar2 baru dari sebelumnya. Ini merupakan karya fenomenal.

    Sebagai idealis, saya akan katakan jika itu bagus ya bagus, jelek ya jelek walau itu dulunya di buat oleh pengarang keren sekalipun. Karena seorang pemuda itu terlihat dari karya. Saya juga tak akan mau menjadi sehebat dia (Andrea) saya jelas juga lebih senang melampauinya.

    • maksud penulis adalah aspek kejujuran itu kawan. dia tidak bicara aspek sastranya, tapi kejujuran dibalik itu. kalaupun aspek sastra, jujur, sebagai pembaca yang pra pemula. rasanya saya bilang bahwa LP belum sehebat tetralogi. jangan sesama bangsa kita saling menjatuhkan. ini kritik positif, kalau dibilang dalam seratus tahun tidak ada karya anak bangsa yang mendunia, orang yang melontarkan itu perlu juga sesekali baca link ini sebagai rujukan: http://en.wikipedia.org/wiki/Pramoedya_Ananta_Toer.

      tapi kalau pernyataannya,”setelah pram, semoga LP meraih kesuksesan di jagad internasional dan membangkitkan penulis-penulis kelas dunia.” saya akan membungkukkan badan serendah-rendahnya

      • saya pribadi mengakui
        andrea termasuk pibadi yang agak sombong dalam pernyataan itu atau bagaimana ia berbicara dilain waktu

        Di hal saya juga mengakui tulisannya.

        ini jelas dua hal yang berbeda

        tapi saya sangat tidak setuju harus menyampur adukkan, beberapa argumen yang masih gamang dan menjurus tidak benar, untuk mengangkat argumen lain. Ini jelas menyesatkan.

        Saya juga mengakui, tulisan yang anda buat gak main-main, berdasarkan fakta dan juga informasi yang anda dapat.

        Tapi alangkah baiknya jika mengakui adanya kecacatan dalam artikel yang anda buat, dan sebarkan itu, bukankah itu yang harusnya diperbaiki.

        Sangat senang dapat berdebat dan menyampaikan pendapat, mengemukakan apa yang kita inginkan. Tapi apapun yang benar tetap akan menjadi informasi benar dan informasi salah tetap akan salah, takkan dapat diperdebatkan lagi untuk ditutup-tutupi. Alangkah baiknya dalam hal ini sebuah ralat atas apa yang kita mulai dan kata maaf atas kesalahan penulisan artikel, semata-mata karena kesalahan makhluk fana sebagai bentuk tanggung jawab adalah hal yang baik untuk dilakukan.

    • anda benar. karya2 dulu memang kuno klasik n ga zaman. dan sangat tidak bermutu untuk zaman sekarang.
      itu karena anda hanya penikmat buku yang mengaku idealis namun ga ngerti nilai sastra yg bagus tuh seperti apa. pandanganmu adalah cermin dari menggeliatnya budaya pop n budaya massa. anda menganggap jelek jika itu klasik dan bagus jika modern.
      mungkin anda bagian dari penikmat film2 indo modern saat ini, hantu2an, cinta2an. mungkin seperti itu yg bagus ya karena zamannya?

      • saya tidak pernah berangga[an seperti itu
        saya beranggapan lebih demokrat bung

        apa yang bisa dinikmati itulah bagus

        setidaknya karya yang baik itu karya yang dapat menyambaikan pesan, dan karya bagus selalu dapat menyampaikan emosi

        Apapun yang saya katakan perdasar apa yang saya mengerti dan saya tahu.

        Dalam dunia komik, design, dan film rentetan produksinya sangat luas dan jelas ribet, tujuan utamanya tentu untuk menyenangkan penikmat tanpa harus menghilangkan nilai idealis dan estetik.

        Dalam komik (hal yang jelas saya tahu dan lakukan) mulai dari pencarian ide cerita, penulisan cerita, penetapan target audien, meletakkan fokus point, membagi panel, peletakkan balon kata dan efek, refisi, tahap inking (atau pewarnaan) lalu jadi sebuah komik. Dan tetap akan mengalami kegagalan jika itu dianggap jelek.

        Jika saudara berkata begitu saudara tentu tak mengerti karya2 besar seperti lord of the ring, lalu up movie, lalu frankeenwinnie. Dalam setiap film tetap terdapat visi, nilai estetik, dan juga dapat selalu dinikmati.

        Setiap hal yang berhubungan dengan orang lain, sesastrawan apapun kita, seseniman apapun kita tetap mereka harus menjadi desainer, seorang perancang.

        Dengan jelas saya katakan, saya tidak menyukai film jelek, saya tidak menyukai karya jelek, dan fil tak bermutu belakangan itu sungguh jelek dan tak patut untuk diakui sebuah karya bagus. Sehebat apapun mereka membuatnya, saya hanya akan menghargai kerja keras mereka.

        Saudara punya buku, saudara punya puisi, tunjukkan ke saya, saya akan katakan jelek jika itu jelek, saya katakan bagus jika itu bagus.

    • Tulisan Damar ini jelas APA dan KENAPA-nya. Ia juga memberikan sejumlah bukti.

      Soal sisi literer LP, saya membahas salah satu kelemahan literer LP dalam komentar saya: anakronisme.

      Ada baiknya bila Kopi Susu memberikan bukti, bagian mana dalam tulisan Damar di atas yang “berlebihan”?

      Karya sastra yang bagus selamanya akan dinilai bagus. Istilah kerennya, timeless. Tak terbatas ruang dan waktu. Siapa yang menolak bahwa Ronggeng Dukuh Paruk atau Tetralogi Buru itu bagus? Atau The Old Man and The Sea. Ketiga novel ini dibahas berbagai terbitan, ilmuwan, dan para budayawan di beberapa negara.

      Terakhir, pemakaian kata “di” bila bersamaan dengan kata kerja itu digabung (dipilih, dibuat), dan bila bersamaan dengan kata benda baru dipisah: di dapur, di rumah, di kantor. :-)

  5. Tulisan Anda sangat baik. Menggunakan argumentasi yang memadai. Saya mohon izin polemik Anda saya jadikan bahan kajian untuk mahasiswa S1-S3 saya di UNJ.

    Salam
    Saifur

  6. Saya sudah membaca artikel mas Damar yang terbit di Kompasiana dan saya kroscek juga di sini. Saya kurang paham soal Sastra, nobel apalagi soal hukum ITE. Namun sebagai blogger, kasus ini tidak perlu sampai dibawah ke ranah hukum. Namun jika sudah menyangkut fakta dan data mungkin ceritanya akan lain. Salam dari Blogger Pontianak – simplyasep.blogspot.com

  7. saya baca di detik. gara2 posting anda ini yang empunya buku membawa keranah hukum…smoga cepat beres…smoga yg benar yang menang…

    • Saya yakin dengan integritas Bang Damar sebagai seseorang yang bergerak dalam bidang publisis dan bagaimana Bang menyampaikan argumentasinya dalam tulisan ini, bang Damar bisa menghadapi dengan baik. :)

      Kalaupun ada jalan damai dikedua belah pihak, maka itu lebih baik…

  8. Baca detik, jika benar tulisan ini akan dibawa ke ranah hukum sepertinya terlalu berlebihan. Baik Andrea maupun Damar punya visi yang bagus untuk mengangkat nama harus bangsa ini.

    Ini bentuk kritik. Respon saja dengan penjelasan. Kita pembaca akan senang jikalau ada dialog yang sehat

  9. dari baca berita di detik, akhirnya jadi masuk kesini.
    sepertinya hal seperti ini tidka perlu sampai ke ranah hukum, toh hal-hal seperti ini bisa dibuktikan karena jelas pihak-pihak yang terlibat adalah penerbit atau penulis yang bisa dihubungi untuk konfirmasinya.
    jangan sampai karena emosi sesaat, malah makin mempermalukan diri sendiri.

  10. ya begini ini yang namanya demokrasi…
    yang penting mas damar bisa mempertanggung jawabkan tulisannya
    & mas andrea bisa mempertanggung jawabkan “klaim”nya

    kita tunggu episode selanjutnya, sad atau happy ending…atau mungkin malah datar-datar saja :-)

  11. Ping-balik: Ketika Diskusi Menghasilkan Buku | Syakib14's Blog·

  12. Ping-balik: Ketika Diskusi Menghasilkan Buku « Asal Tulis·

  13. kalau ini beresiko untuk Andrea HIrata, kenapa kita harus repot, selama tidak dirugikan dan karyanya dinikmati banyak orang..

  14. Saya belum pernah baca novelnya, klo filmnya pernah nonton di tv swasta, bagi orang awam seperti saya cerita andrea hirata masih kalah jauh dengan cerita semisal siti nurbaya… klo laskar pelangi bagi saya sih sih sedikit diatas sejenis sinetron ftv gitu… sekali lagi bagi saya… klo punya pendapat lain ya monggo..

  15. saya sudah membaca novel tersebut, menonton filmnya dan juga sudah melakukan riset kecil via google setelah membaca artikel ini…

    pertanyaan mendasar bagi saya adalah, bung damar ini membuat tulisana yang menurut dia didasarkan fakta hasil risetnya dan dituangkan dalam bentuk tulisan.

    nah mengapa bung andrea hirata harus menjadi “lebay” dengan membawa kasus ini ke ranah hukum? apa tidak lebih baik membuat jawaban di kompasiana (jika itu media tempat tulisan ini dituangkan, selain di blog ini). bantahlah data itu dengan data juga, sampaikan bukti tertulis/email atau apapun data yang dipunya oleh bung andrea hirata, jika itu memang otentik (bukan mengada-ngada). tentunya, bung danar akan dengan senang hati mengoreksi tulisannya tersebut jika data bung andrea otentik. sekali lagi otentik.

    jadi menurut saya, terlalu lebay dan seperti nampak panik jika bung andrea pagi-pagi buta sudah membawa tulisan ini ke ranah hukum. benar kita ini negara hukum. segala sesuatu disarkan hukum. tapi bukankah kita selalu juga mengagung-agungkan demokrasi???

    berargumentasilah dan cari titik temu, siapa yang benar siapa yang salah. yang benar tidak usah jumawa, yang salah minta maaflah secara kesatria, koreksi tulisannya dan rehabilitasi nama yang dituding.

    sebaliknya jika terbukti apa yang disampaikan bung andrea juga hanya sebatas klaim, maka dia harus berani minta maaf atas ketidakbenaran informasi yang telah disampaikan ke publik luas lewat media-media.

    ketika yang salah tidak mau meminta maaf dan mengoreksi/merehabilitasi nama baik yang benar…disitulah bawa masalah ini ke ranah hukum.

    atau memang seperti tertulis di detik.com, bahwa kebetulan bung andrea memiliki hubungan saudara dengan pengacara kondang yang telah dua kali meng-KO presiden? Sehingga merasa diatas angin, lalu menempuh jalan pintas?

    Hanya berbagi saran untuk bung andrea, kemenangan secara hukum tidak akan ada artinya jika tulisan ini tidak dijawab dengan data dan fakta otentik.

    bijaklah, jika pagi-pagi sudah bicara tuntutan, lalu dimana intelektualitas kita? apalagi jika memang kita merasa seorang anak bangsa yang langka, satu dalam seratus tahun yang dianggap jenius, sehingga karyanya dikategorikan sastra internasional? mengalahkan pendahulu yang sudah lebih dahulu mendunia seperti Pramoedya, HAMKA, Nh. Dhini dan lain-lain nya.

    • Gud k0men bung! Sekalipus mengerikan saya. Mrinding skali kalo trnyata mas andrea sampai d cecar sperti itu olh publik, aku tak tega mendapati kenyataan itu. hanya kerendahan hati solusinya. Toh bhaya juga bagi mas andrea kalopun ia menang d meja hijau tapi publik tak menyukainya. . .

  16. Saya sudah membaca dan melihat film LP. Saya termasuk penikmat karyanya. Secara umum memang ceritanya enak, gagasannya bagus dan menyentuh emosi walaupun kadang agak memaksakan diri seperti pemilihan kata yang seperti disusulkan dari masa depan :) seperti kata filicium.

    Semoga saja fakta2 terklarifikasi. Dan sebaiknya tidak perlu dibawa ke pengadilan. Damai itu indah.

  17. kawan, kau mau diadukan tapi dibungkus dengan kata-kata mencari cara-cara lain untuk menyelesaikan masalahnya. http://news.detik.com/read/2013/02/20/111233/2174816/10/yusril-andrea-hirata-masih-upayakan-damai-dengan-blogger. tapi justru ketika kau diadukan, apa yang kau tulis semakin menunjukkan kebenaran. Baru kali ini ada penulis yang sibuk mau ngadukan orang. bukankah, tulisan dijawab dengan tulisan? mana arti kebebasan ekspresi? aneh bin ajaib juga penulis best seller itu. seajaib ketika melontarkan bahwa dalam kurun seratus tahun tidak ada karya anak bangsa yang mendunia. rasanya mau ngirim tetralogi gratis buat yang bilang gitu…

    tulisan yang sangat dewasa kawan. aku sangat setuju dengan pandanganmu.

    • kalo salah yaa :) kalau om damar salah, om andrea hirata tinggal klarifikasi aja beserta buktinya. kalau om damar salah, saya rasa dia mau minta maaf. tapi kalau faktanya om andrea yang salah, harus gentle juga dong:) berani buat statement di publik, berani tanggung jawab kebenaran statement tsb. supaya gak jadi kebohongan publik.

    • Kalau saya baca tulisan ini cuma ajakan supaya mengedepankan “kejujuran” dalam klaim nya.

      Untuk pejabat mungkin bisa disebut pejabat korup , kalo penulis tidak jujur apa bisa dibilang “penulis korup” dan diproses KPK.

      Kalau memang International Best Seller , harus diaudit juga pembayaran pajaknya dari royalti yang didapatkan, harusnya besar kan, jujur yuk …

  18. Cemooh anda tidak berkontribusi buat kemajuan sastra Indonesia. Andrea Hirata tetap lebih baik dari pada kata-kata Anda.

  19. Salam.

    Bang, saya setuju sama tulisan ini. Saya nggak permasalahin soal kemungkinan manipulasi info soal kontrak dengan FGS. Saya pribadi cuma gak sreg aja di poin adanya “upaya pengabaian” terhadap Pram & Romo Mangun, dengan klaim dia orang Indonesia pertama yg mencuat di dunia sastra Internasional setelah 100 tahun. Dia lupa, atau malah nggak tahu, kalau Pram diganjar Magsasay dan gelar dokot honoris causa sama Harvard karena karyanya.

    Jujur aja, saya pribadi belum baca novel2 AH sampai habis, karena baca sinopsisnya & beberapa halaman awal aja udah ketahuan itu “lebay”. Nggak ada apa2nya dibanding Tetralogi Pulau Buru, Arok Dedes, atau Arus Balik-nya Pram, pun Burung-burung Manyar atau Rumah Bambu Romo Mangun.

    Ini murni opini pribadi, dan setiap orang berhak beropini kan? .
    Salam, sekalian izin saya kuntit blog Abang. :)

  20. Saya agak tidak sepakat mengenai imprint. Benar, imprint berbeda dengan perusahaan induk karena ini masalah pasar. Tapi kenyataannya, hak penerbitan tetap di perusahaan induk. Misalnya, Hellblazer dan Swamp Thing yang diterbitkan oleh Vertigo, kenyataannya pemegang haknya adalah DC Comics.

  21. Tulisan diatas lebih mencerminkan mencari-cari kesalahan2 Andrea, tapi sayang malah jadi blunder.. sifat alami manusia, jika seseorang lebih baik dari dirinya maka akan timbul rasa iri apalagi dengan profesi di bidang yg mirip.. dan itu terjadi pada diri anda.. Tulisan yang tidak bermanfaat.. kenapa tidak langsung cross check dengan Andrea daripada menjatuhkan langsung.. cuma cari ribut saja..

  22. Mengapa AH jadi kebakaran jenggot. Kalau merasa benar, ya gunakan hak jawab di media massa/blog tidak perlu kalap. Sebetulnya DJ juga bisa kirim email ke AH dan menanyakan mengenai claim AH, sehingga bila berpolemik begini tidak perlu semua orang sedunia tahu. Dua-duanya perlu pendewasaan karena AH merasa dipermalukan dan DJ merasa tahu segalanya dan menulis di media massa.

    So selesaikan secara kekeluargaan, musyawarah dan sama-sama menjelaskan ke publik. Tidak perlulah ada permusuhan. Indonesia dan masyarakatnya sudah banyak masalah, tidak perlu ditambah lagi. Kasihanilah diri kita dengan buruk sangka dan pikiran negatif. Mari kita hidup damai dan saling bergandengan tangan. Friksi perlu namun kerukunan lebih baik. Salam damai. Semoga kedua belah pihak mendapatkan jalan keluar untuk kesalahpahaman tersebut.

  23. kenapa andrea hirata ga dihubungi buat konfirmasi?
    seharusnya sebelum anda menerbitkan artikel ini, anda bisa konfirmasi data-data yang anda temukan kepada andrea hirata sebagai sumber berita utama, ini akan membuat artikel anda semakin berbobot dan berimbang.

    dengan artikel seperti ini, seakan-akan anda berada dalam posisi menyerang daripada dalam posisi klarifikasi fakta.

    • Bagi seorang yang biasa menulis (blogger misalnya) tidak perlu sebuah konfirmasi apalagi dari seorang yang sudah amat dikenal publik (karena biasanya memang sulit). Tulisan Mas Damar hanya sebuah kritikan yang harusnya dijawab juga dengan tulisan (kalau ingin dijawab). Kritikan yang bertanggung jawab karena langsung mencari fakta ke beberapa sumber yang sahih. Tidak ada niat ‘mendompleng nama’ atau apapun karena setelahnya Mas Damar pasti akan menulis artikel lain tentang dunia kepenulisan, karena itulah ‘passion’-nya. Semua orang yang biasa menulis pasti akan seperti itu. Mas Damar pun tidak akan menyangka kalau tulisannya akan membuat AH ‘kliyengan’ yang gak perlu.

      Masalah imprint pun juga harus jadi pengetahuan bagai masyarakat umum. Imprint hanyalah ‘cabang’ penerbitan. Meski diterbitkan oleh Sarah Crichton Books tetapi tetap hak utama ada pada FSG. Sama halnya dengan Elexmedia, Grasindo, Oasis, dll yang merupakan imprint dari Gramedia. Beberapa imprint sudah menggunakan nama imprintnya dalam surat perjanjian kontrak (SPK), namun ada juga yang masih menggunakan nama penerbit utamanya. Jadi, wajar saja kalau AH bisa menunjukkan bukti bahwa SPK-nya atas nama FSG.

  24. Wah, seru nih, saya bukan sastrawan tapi hanya penikmat buku. Tapi apa yang anda tulis tidak buruk. Buat saja buku bagus dan saya baca dan akan saya lihat apa argumen anda lebih baik dari tulisan Andrea Hirata.

  25. Bagus nih artikel. Cara pandang yang ga statis, ga hanya ikut grudug dan ga langsung menelan mentah2 ocehan orang. Bagi saya, (saya Prof. jd jgn ngeyel ya..), tulisan2 klaim best seller, best buy, best discount, hanyalah sampah kata yg muncul dr budaya asap (industri). banyak jg novel yg serta merta dilabeli best seller tp ehh ternyata ga karuan jeleknya.

    salam JANCUKER Surabaya.

  26. tak tahulah masalah begini…
    LP bagus, aq udah baca…
    kalo soal sastranya atau penghargaan, penerbitan dan lainnya saya kurang tahu dan mengerti…

    bagi saya sebuah tulisan yg bagus layak dibaca..
    itu saja…
    kalo lantas dikomersilkan atau apa ya wajar saja..

    salam dari orang awam

    • bagi orang awam, LP tuh bagus banggetsss…Lebayy COK! novel gtu dbilang bagus. Bagus krna ada tulisan ‘best seller’.

  27. Pertama saya mengapresiasi betul apa yang diucapkan Bang Damar dimuka terkait bahwa tulisan ini bukanlah tentang kritik sebuah sastra. Melainkan terbatas pada publisitasnya saja.

    Jika boleh tahu lalu apa yang menjadi motivasi bang Damar selain menginginkan sebuah kejelasan, tentang label itu, dari Andrea? Saya melihat adanya sesuatu yang lain dari bagaimana bang Damar menggunakan beberapa argumentasi diatas.

    Apa dari pihak, kalaupun tulisan ini benar adanya, Andrea Hirata saja yang dipersalahkan? Ataukah ada indikasi lain yang mengarah pada wacana diatas tapi belum ditemukan sama Bang Damar?

    Salam..

  28. ini sudah dibalas: http://www.tempo.co/read/news/2013/02/20/219462537/Kata-Andrea-Hirata-Soal-Tudingan-ke-Laskar-Pelangi

    IMO: Sebenarnya ini bukan content kok, seperti mas damar bilang ini adl ttg publisitasnya saja. Rada aneh juga kalo dibawa ke ranah hukum krn yg ditulis mas Damar adalah analisa pribadi yg dicantumkan di blog kompasiana dan disini shg tdk wajib utk cover both side dll. Hanya karena menyangkut nama besar LP dan Andrea sj sehingga ini juga ikut membesar, termasuk (mungkin) kipasn media dan lain2.

    Monggo, silakan diselesaikan baik2, malu mas Damar dan mas Andrea kan sesama anak bangsa yang cerdik cendikia,, :)

  29. Sebenarnya kalau membahas masalah 100 tahun pengakuan Andrea itu sah-sah aja untuk memperingatkan Andrea agar juga menghargai sastrawan indo lainnya.. tapi kemudian ditambah-tambah lagi dengan masalah publisher, istilah international best seller, penghargaan di Jerman.. kesannya sudah mencari kesalahan berlebih dari Andrea..
    balasan Andrea untuk anda juga lebih ke masalah publisher karena anda menganggap Andrea tidak jujur.. Andrea sudah memberikan bukti kontraknya dengan FSG, sekarang mana tanggapan anda ??

    • setuju, menurut sy sah-sah sj jika Andrea membawa kasus ini ke ranah hukum… memuat informasi tanpa bukti dan hanya berdasarkan cross check menurut sy terlalu berani, terlebih ditulis oleh org yang punya nama… terlepas dr benar tidaknya claim tsb, alangkah baiknya jika di awal tulisan disertai kalimat permintaan maaf atau minta klarifikasi jika salah, bukan berupa tuduhan seperti yang sudah disampaikan… smoga permasalahan ini segera selesai, baik mas Andrea dan mas Damar dpt mempertanggungjawabkan ucapannya….

  30. Pak Juniarto, apa yg anda maksud dengan “dinominasikan sebagai pemenang nobel”? adakah bukti peryataan resmi dari komite nobel soal nominasi pemenang nobel atau hanya pernyataan pribadi saja? setahu saya panitia nobel tidak pernah merilis nama2 orang yang dinominasikan untuk mendapatkan nobel dan pemilihannya tertutup hanya untuk komite nobel dan yang keluar hanya nama2 yang mendapat hadiah nobel…tolong sebaiknya anda studi dulu yang detail sebelum menuils…:)

  31. Kalau mau berkarya, ya berkarya sajalah sepenuh hati dan dengan segala kerendahan hati. Masalah penghargaan, biarlah yang ngasih penghargaan yg ngomong sendiri. Masalah kritik, terimalah dengan segala kerendahan hati. Kenapa harus pusing dengan segala penghargaan apabila baru mulai berkarya? Apa itu akan menjadi karya terbaik sepanjang hidup? Yang karyanya segambreng judul seperti bapak Pramoedya Ananta Toer aja nggak pusing dengan penghargaan dan kritik. Kenapa masih muda harus emosional hingga merambah ke hukum segala. Mengapa tidak belajar dari senior bijak? Sebaiknya segera surutkan langkah dengan segala kerendahan hati dan jwa besar, sebelum benar2 menggali hingga terjungkal di kuburan sendiri.

  32. Apa benar di Australia novel LP itu juga internasional bestseller? Saya lihat di website Random House Australia, di cover novel Rainbow Troops jelas-jelas tertulis: The Indonesian Bestseller bukan International Bestseller.

    http://www.randomhouse.com.au/books/andrea-hirata/the-rainbow-troops-9781742758589.aspx

    Bukannya beda ya makna dari Internasional bestseller dan The Indonesian bestseller? Kalo baru bestseller di Turki ya tulis saja Bestseller di Turki. Khan, apa adanya jauh lebih baik.

  33. Anda kepo sekali. Toh itu pekerjaan org lain, jika mmg ada kbhongan, saya rasa msh bnyk kbhongan lain di Indonesia yg shrsnya lbh anda perhatikan.
    Saya rasa mereka yg tlh mnjdi sastrawan masyhur lah yg berhak mengkritik kbhongan (yg blm pasti kebohongan) ini.

  34. Saya melihat artikel ini sebagai sebuah kritikan yg bagus..
    setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan toh, setidaknya Andrea Hirata sudah berkarya..
    meskipun mungkin dia salah atau gimana, masa depannya masih panjang, masih ada banyak waktu untuk dia bisa belajar dari kesalahannya..
    Mendingan kita lihat ke dalam diri kita sendiri, mana karya kita?
    Jika novel Laskar Pelangi yang diejek2 saja sudah jadi best seller, lalu karya si pengejek apakah bisa menyamai pencapaian novel Laskar Pelangi?
    Kalau saya terus terang saja bukan apa-apa.
    Bagi yang senang mengejek, tunjukkan kapasitasmu, sebagai orang yang merendahkan karya orang lain tentu orang ini punya karya yg lebih bagus, bukan?
    Atau hanya orang2 yang sok pintar? Hehe

    malahan tadi ada yang ngaku “prof” lho

  35. Hehe..
    AH buat pernyataan secara publik.
    DJ buat komentar (atau ‘gugatan’) secara publik juga.
    Yg digugat? Pernyataan AH (bukan AH-nya).
    Lalu ada yg mencak-mencak, termasuk mereka yg kepentingan atau identitasnya sangat tidak jelas (seperti kita para komentator ini). Ejekan pun muncrat.
    Jadi kalau ada astronot bilang di bulan lihat angkot, trus kita mesti diem aja gitu (krn kita bukan astronot)?
    Please, deh!

  36. cara mudah untuk beken bagi penulis yang baru ‘belajar’ nulis adalah dengan mengkritik habis2an pesohor lain……. sebelum ini jika ditanya siapa sih Damar Juniarto? pasti banyak orang geleng kepala. sekarang kalo pertanyaan serupa diajukan, pasti banyak yang jawab, “Ooohh, Damar yang itu…….” sambil manggut2. Apapun manusia tak ada yg sempurna, ngapain repot2 sibuk ngurusin dapur orang sepanjang itu tak merugikan siapa2. kalau ada yg merasa dirugikan biar yang bersangkutan aja yg langsung nglabrak. Entah itu Siti Nurbaya, Siti Salamah, Arok Dedes, Arok Didis, asal enak dibaca, inspiratif, gak norak, gak lebay, gak kampungan, gak porno, mau best seller atau best teller, mau terjual sepuluh juta kopi atau cuma sebiji, ga masalah, baca aja. kalau anda bisa nulis, tulis saja ide anda sendiri dengan bagus, siapa tahu laku seratus juta kopi. mau Andrea Hirata sombong, lebai, norak, songong atau apalah biar publik aja yang menilai. manusia tak ada yang sempurna, jika sombong itu sisi buruk Andrea, biarin aja, asal sombongnya ga bikin rubuh negara. daripada sibuk ‘metani’ kekurangan orang lebih baik menelisik dan berusaha memperbaiki kekurangan sendiri. gitu aja kok repot……..!

  37. Aku setuju pendapat latifah….
    jangan suka mencari-cari kesalahan orang lain, saya harap anda memakai kaca besar di rumah anda, dan tanyalah diri anda sendiri. Apa yang sudah anda lakukan? artikel anda ini seolah-olah anda orang yang tak pernah berbuat salah. kalau seperti ini anda sama saja dengan andrea hirata, SAMA-SAMA SOMBONG.
    jangan hanya bisa memberi kritik bung, anda adalah seorang penulis. buktikanlah kalau anda adalah seorang penulis.
    mengkritik orang lain cuma akan membuat anda seolah hanya penulis kacangan.
    saya harap suatu saat nanti ketika saya pergi ketoko buku saya menemukan tulisan anda yang spektakuler ( megabest seller 100 jt eks).
    talk less do more…
    berhentilah mengkritik orang lain, mulailah berkarya, berusahalah menjadi penulis yang benar-benar penulis dan buktikanlah diri anda.
    saya tunggu buku anda di toko buku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s