Gerakan Setengah Jalan (Refleksi atas Dinamo 2013)

Terlibat dalam sebuah gerakan sosial, apalagi jika gerakan tersebut digadang-gadang sebagai gerakan perubahan, mensyaratkan adanya agen perubahan yang sadar. Kesadaran inilah yang perlu dibangun, ditumbuhkan, dan dikembangkan pada tiap pribadi agen perubahan. Perjuangan memang berawal dari kesadaran itu sendiri. Itu diktum gerakan kiri yang paling dasar.

Berada di Soehanna Hall di hari Sabtu, 19 Januari 2013 bersama lebih dari 300 partisipan yang diundang lewat DINAMO 2013 – Digital Nation Movement – membuat saya banyak berharap, sekaligus cemas. Saya memang terdaftar sebagai peserta sekaligus tamu undangan sebagai pengelola #Twitteriak. Sebagai peserta saya berharap mendapat banyak manfaat dari seminar ini dan suntikan semangat bahwa masih ada orang-orang yang ingin berbuat sesuatu bagi bangsanya. Tapi sebagai tamu undangan, saya cemas melihat partisipan acara begitu cair.

Barangkali bagi pihak penyelenggara, Change.org yang dipimpin oleh Usman Hamid dan Arif, cairnya partisipan sudah diantisipasi. Mereka sudah berusaha memompa dan membakar semangat dengan orasi dan motivasi yang disampaikan oleh Mira Lesmana, Shafiq Pontoh, Irwan Ahmett, Oscar Matulloh, dan Faiz Allende. Sontak saya merasakan satu aula besar seperti dialiri semangat perubahan.

image

Tapi ada yang kurang. Tidak ada upaya membuka kesadaran agen perubahan ini akan realita bangsa. Persoalan ketidakadilan, tidak meratanya pembangunan, kemiskinan, hak dan akses publik, dan lainnya yang biasanya menjadi materi standar membangun kesadaran kelompok. Materi sitnas menyetarakan kesadaran agen perubahan atas apa yang perlu diubah, bagaimana mengubah, dengan cara apa mengubahnya.

Melompati bagian itu dan langsung meminta partisipan untuk merancang aksi perubahan, menurut saya menghasilkan situasi yang mudah ditebak: aktivisme, kegiatan sekadar.

Entah disadari atau tidak oleh penyelenggara, menurut saya isu-isu yang muncul adalah isu-isu yang dangkal, tak cukup melahirkan sebuah gerakan sosial. Bisa jadi saya salah. Atau bisa jadi gerakan sosial di masa kini telah bergeser jauh. Begitu pula cara-cara yang ditempuh. Tindakan karitatif atau filantropis, mikro ekologis, menempati top of mind gerakan sosial di bangsa digital ini. Tidak salah, tetapi itu hanya memberi ikan bukan kail. Saya menganggapnya gerakan setengah jalan saja.

Saya yakin ke depan, workshop semacam DINAMO perlu digelar lagi, dipertajam, difasilitasi lebih serius karena tak salah menaruh harapan, daripada tidak sama sekali.

[dam]

5 responses to “Gerakan Setengah Jalan (Refleksi atas Dinamo 2013)

  1. Ada yang menawarkan ikan.
    Ada yang memberikan kail.
    Tapi harus ada pula yang mengajari cara mengail, mengajari cara budi daya ikan di kolam, sungai, danau, ataupun laut, mengajak memelihara sumber daya perikanan secara berkelanjutan, dan sebagainya.
    Dan tak boleh lupa, harus ada pula yang menjernihkan sungai, memulihkan danau dan dari rusaknya kondisi akibat pencemaran berkepanjangan, agar semua ikan bisa hidup dan berkembang biak baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s