Hitam-Putih Cerita Anak Kita

Bukan untuk sekolah, melainkan untuk hidup, kita belajar. – pepatah Bahasa Latin

Buku Anak Lokal vs. Buku Anak Terjemahan

Buku Anak Lokal vs. Buku Anak Terjemahan

Non scholae, sed vitae, discimus“, begitulah bunyi pepatah Bahasa Latin. Artinya “bukan untuk sekolah, melainkan untuk hidup, kita belajar”. Kita belajar memang untuk hidup dan apa yang kita pelajari lewat pendidikan adalah hal yang lebih besar untuk dibahas daripada membicarakan mengenai jumlah bangunan sekolah, kurikulum, ijazah, dan lain-lain. Pendidikan itu seharusnya memanusiakan yang dididik, membebaskan pikiran, memberikan masa depan yang lebih baik, menghargai perbedaan pendapat, itulah yang menjadi pokok pentingnya.

Lalu darimana seseorang mendapat pendidikan? Banyak cara. Salah satu cara yang paling umum dikenal adalah lewat jalur sekolah. Jenjang pendidikan sekolah disesuaikan dengan umur dan kapasitas kemampuan peserta didik. Itu paling tidak idealisasinya.

Kemudian bagaimana potret pendidikan di Indonesia? Dalam kurun waktu setahun ini, pendidikan kita diwakili oleh berita-berita tentang kegagalan RSBI, porak-poranda UN, dan kemudian mencuatnya LKS “Bang Maman dari Kali Pasir”. Tulisan ini hendak menyajikan refleksi keberadaan buku anak lokal kita dengan berkaca pada hal terakhir tadi.


Potret Hitamnya Cerita Anak Lokal
Belum lama ini, kisah ‘Bang Maman dari Kali Pasir’ dalam buku Lembar Kerja Siswa (LKS) kelas 2 SD jadi fokus pemberitaan. Bukan berita yang baik sebetulnya. Seperti apa isi cerita ‘Kisah Bang Maman dari Kali Pasir’ yang tercetak di halaman 30 buku LKS ‘Ceria, Cermat Siswa Aktif. Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta’ ini?

“Bang Maman dari Kali Pasir”

Bang Maman adalah pedagang buah di Kali Pasir. Bang Maman mempunyai anak perempuan bernama Ijah dan berkata ingin menjodohkannya dengan Salim anak Pak Darip orang kaya di Kali Pasir. Tak lama setelah Salim dan Ijah menikah, Pak Darip meninggal dunia. Pak Darip meninggalkan harta warisan berupa kebun yang sangat luas kepada Salim.

Salim tidak bisa mengurus kebun peninggalan ayahnya, dan minta Kusen mengurusnya. Istri Kusen mempunyai rencana jahat, dia meminta suaminya menjual kebun Salim. Setelah kebun dijual mereka melarikan diri. Salim menjadi miskin, harta warisan ayahnya sudah habis. Akhirnya Salim berjualan buah di pasar.

Bang Maman mengetahui Salim telah jatuh miskin. Bang Maman ingin Ijah bercerai dengan Salim, karena Salim telah jatuh miskin. Ijah tidak mau, biar miskin Ijah tetap setia kepada Salim.

Akhirnya Bang Maman meminta bantuan kepada Patme supaya berpura-pura menjadi istri simpanan Salim. Patme setuju atas permintaan Bang Maman. Kemudian Patme datang ke rumah Salim dan berbicara dengan Ijah. Patme mengaku sebagai istri Salim. Patme dan Ijah bertengkar. Ijah merasa kecewa dan marah kepada Salim.

Kemudian Salim memberikan penjelasan kepada Ijah, namun Ijah tidak percaya. Akhirnya Salim pergi meninggalkan Ijah.

Suatu hari Ijah berkenalan dengan Ujang. Ujang Adalah seorang perampok yang sudah lama dicari polisi. Dengan menyamar seperti orang kaya Ujang datang melamar Ijah. Lamaran Ujang diterima dan akhirnya Ujang dan Ijah menikah.

Pada saat pernikahan berlangsung datanglah polisi menangkap Ujang dan gentong. Mereka sudah lama dicari polisi karena sebagai perampok. Namun Ijah tidak tahu kalau mereka sebagai perampok. Mereka akhirnya dibawa ke kantor polisi dan Bang Maman sebagai saksi.

Polisi minta agar semuanya tenang. Dijelaskan oleh polisi bahwa yang ditangkap itu adalah buronan. Mereka ditangkap karena sering berbuat jahat. Mereka suka merampok dan menipu. Akhirnya pesta perkawinan berangsur-angsur bubar.

Masyarakat pun tersentak! Banyak yang bertanya: “Seperti inikah cerita untuk anak yang bisa disajikan? Tentang istri simpanan?” Lainnya lagi mengajukan pertanyaan retorik “Tidak punyakah kita cerita anak lokal yang baik untuk murid kelas 2 SD?” Kemudian ada lagi yang menggugat mengapa kementrian yang ditugasi mengurusi pendidikan masyarakat bisa demikian abai atas peristiwa ini? Semua itu sudah kita saksikan belum lama menjelang Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2012 ini.

Jawaban atas semua pertanyaan itu bisa kita dapati dari pendapat Drs. Suyadi, pendongeng dan penulis buku anak lokal di salah satu kesempatan obrolan #Twitteriak. “Yang lemah sistem pendidikan kita secara general, sistemnya kurang mendukung berkembangnya dongeng di lembaga formal,” jawab Drs. Suyadi. Lembaga formal yaitu jalur sekolah yang diurusi oleh sistem pendidikan nasional ditengarai Drs. Suyadi telah menghambat bergeraknya karya cerita anak lokal yang ada.

Masalahnya kemudian, apakah memang ada karya cerita anak lokal? “Kita ini miskin bacaan kultural,” ujar pakar pendidikan Prof. Dr. Arief Rachman MPd. Ia menilai bahwa negara kita kekurangan bahan bacaan anak-anak yang bertemakan budaya. Pengamatan di toko buku memberikan pemahaman yang lebih gamblang lagi. Rak-rak buku anak memang ada, tetapi yang nilainya lokal, kalah tenggelam dibandingkan yang terjemahan. Tapi yang lebih memprihatinkan dari semuanya itu sesungguhnya adalah fakta pahit bahwa pembaca buku-buku/cerita anak kita jumlahnya tidak menggembirakan. Data-data menunjukkan betapa kurang lakunya buku-buku/cerita karya penulis lokal jika dibanding dengan karya-karya terjemahan. Jika kita pergi ke toko buku besar, hampir dipastikan bahwa rak yang dikerumuni lebih banyak anak-anak adalah rak buku karya terjemahan atau komik, yang notabene juga terjemahan. Taman-taman bacaan lebih suka mengkoleksi dan menyewakan komik daripada bacaan anak semisal novel, karena memang itulah bacaan yang laris di kalangan anak-anak dan remaja. Perpustakaan sekolah juga masih tertatih-tatih mengajak murid-murid membaca buku/cerita anak lokal.

Namun apa sebab pembaca buku/cerita anak lokal sedikit? Yanti Susanti menulis skripsi tentang penyebab kualitas buku anak lokal lebih rendah dibandingkan bacaan anak terjemahan. Skripsi itu ditulisnya selagi mahasiswa Universitas Indonesia dengan judul “Perbandingan antara buku cerita bergambar lokal dan terjemahan terbitan Gramedia Pustaka Utama, Gramedia Widiasarana Indonesia, dan Elex Media Komputindo tahun 2000 kajian terhadap unsur-unsur intrinsik, ilustrasi, format buku, dan penerbitan”. Intinya Yanti Susanti menilai masih banyak sekali kekurangan buku/cerita anak lokal yang ada sehingga pembaca kita cenderung memilih membeli buku terjemahan untuk anaknya.

Potret Cerah Cerita Anak Lokal
Karena skeptis atas hasil penelitian dan penilaian atas buruknya buku anak lokal, sebuah “riset kecil” dilakukan. Dari kunjungan ke sejumlah toko buku, perpustakaan sekolah, dan juga penulis-penulis buku anak lokal kita terangkum pandangan sekilas potret cerita anak lokal dari sudut pandang masyarakat umum.

Memang benar di toko buku besar di Jakarta, keberadaan buku anak lokal seperti karam di lautan terjemahan. Tetapi di perpustakaan sekolah, anak-anak sekolah masih mencari dan malah menikmati buku anak lokal yang ada dan bukan itu saja, namun juga meminta pihak sekolah untuk terus menyediakan buku anak lokal yang bagus-bagus. Apa yang disebut bagus oleh anak-anak sekolah itu, antara lain buku anak lokal yang dihasilkan oleh KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya), Lupus kecil, dan Pak Raden (Drs. Suyadi).

Empat buku anak lokal karya Drs. Suyadi misalnya, sangat layak untuk diperhatikan. Buku cerita “Pedagang Peci Kecurian” yang diterbitkan ulang Penerbit Djambatan dalam rangka 50 tahun penerbit itu di tahun 2004 ditulis oleh Drs. Suyadi pada tahun 1971. Apa yang istimewa dari buku cerita berjudul “Pedagang peci kecurian” ini?

Pertama, cerita tidak pertama-tama dibebani oleh pesan moral, yang penting enak diikuti. Suyadi membuka cerita ini dengan memperkenalkan seorang pedagang peci yang sudah menjajakan peci keliling desa. Capek berjualan, dia istirahat di bawah pohon. Pembukaan cerita ini ringan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Kita hanya menduga akan ada pencuri, itupun dari judulnya. Tapi siapa yang mencuri? Penulis pandai menyembunyikannya. Cerita berlanjut, ternyata saat tertidur itulah, ada banyak kera turun dari pohon, lalu mencuri peci dan memakainya di kepala mereka. Kejadian itu terjadi di halaman kelima, belum terlalu jauh dari depan. Kedua, dituliskan dengan teknik cerita modern. Penulis secara cerdik meletakkan setiap kejadian dalam tempo yang terukur. Seperti halnya teknik penceritaan modern, “we enter fast, but then leave early”. Ketiga tentang pesan moral, bukannya tidak ada. Secara apik, penulis meletakannya secara implisit. Dengan halus ia berkata yang membedakan manusia dengan kera adalah manusia menggunakan otaknya untuk berpikir, tak seperti kera yang bodoh. Tetapi pesan ini tak perlu digembar-gemborkan dari sejak awal cerita.

Ketiga cerita lain juga ditulis dengan sangat menarik, tanpa harus terlihat kuno meskipun ditulis nyaris 30-an tahun yang lalu. Cerita “1000 Kucing Untuk Kakek” misalnya. Cerita “1000 Kucing untuk Kakek” ini dimulai dengan sederhana. Di situasi malam yang gelap, kakek dan nenek berbincang-bincang. Kakek punya gagasan untuk memelihara anak kucing kecil, untuk mengisi hari-hari mereka berdua. Kakek dan nenek itu tidak punya anak apalagi cucu. Itu sebabnya, kakek ingin anak kucing untuk disayang. Esoknya, nenek diminta mencari kucing. Kenapa nenek? Karena nenek setiap hari pergi ke pasar dan di pasar ada begitu banyak orang yang bisa dimintai anak kucing. Maka nenek pun pergi dengan misi mencari anak kucing itu.

Sampai di sini, pembaca disuguhi pertanyaan: berhasilkah nenek menemukan anak kucing? Logikanya harusnya tidak sulit. Bukankah kita sering melihat anak kucing terlantar. Tapi penulis begitu piawai mempermainkan pembaca. Misi nenek gagal total. Di rumah, ia temui kakek yang juga gagal total cari anak kucing. Situasi mencapai titik klimaks dengan menggantungkan pertanyaan apakah permintaan sederhana kakek itu akan menemui kegagalan. Namun ternyata tidak. Kakek dan nenek itu mendapat bukan hanya satu, tetapi “seribu” kucing. Tuntaskah? Belum juga, cerita masih mengalir hingga selesai di halaman 38. Dua kupasan dari empat buku anak lokal karya Drs. Suyadi ini memberikan sebuah fakta yang sulit dibantah bahwa Indonesia masih mempunyai cerita anak lokal yang bagus.

Selain Drs. Suyadi, ada banyak penulis yang memiliki kepedulian untuk menulis cerita-cerita anak yang sama bermutunya, semisal Murti Bunanta, Djokolelono, lalu mereka yang bergabung di Forum Penulis Buku Anak, juga ada penulis muda Clara Ng, Sarah Ismullah, Vera Putri, dsb. Tinggal bagaimana mereka yang memiliki potensi untuk “mencerahkan” dunia anak ini diberi “ruang” untuk dikenal dalam ranah lembaga formal pendidikan agar kejadian “Bang Maman dari Kali Pasir” ini tidak terulang lagi dan juga diperlukan upaya untuk memperkenalkan kekayaan buku anak lokal kita kepada publik dengan cara yang lebih menarik dan efektif.

[dam]

Catatan: Tulisan saya ini pernah dimuat di: AlineaKata dalam rangka Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2012.

Telusur sumber:
1. Wawancara Pak Raden tentang ‘Dongeng dan Buku Anak Lokal’ bisa dibaca di #Twitteriak
2. Rangkuman skripsi Yanti Susanti ada di Buku Anak Lokal vs. Terjemahan
3. Resensi buku anak “Pedagang Peci Kecurian” dan “1000 Kucing Untuk Kakek” ada di blog resensi buku saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s