Mengubah Dunia Dengan Menjadi Pembaca Aktif

Membaca Buku Membuatmu Sehat Selalu

Membaca Buku Membuatmu Sehat Selalu

Buku. Sejarahnya merentang jauh. Tidak sebatas pada penciptaan kertas dari bahan papirus yang terjadi 2400 SM di Mesir Kuno, tetapi lebih tua lagi. Lebih tepatnya ketika masyarakat manusia mengubah tradisi lisan menjadi tulisan. Tulisan ini bisa terdapat pada lempengan batu seperti terjadi di peradaban Sumeria, kulit binatang seperti yang banyak terjadi di Asia Tengah, lembaran daun, kain sutra, hingga pada kertas mulai dari berbahan papirus, bambu, ganja, hingga pinus, serta sekarang ini buku telah melampaui batasan-batasan yang kita tak kenal sebelumnya: buku digital.

Apa yang terjadi ketika manusia mengubah tradisi lisan menjadi tulisan? Sebuah revolusi! Sebuah sejarah telah dimulai. Pikiran-pikiran manusia mulai tercatat dan terdokumentasikan. Ketika si pemilik pikiran meninggal, pikiran-pikirannya dengan luar biasa tetap hidup. Inilah esensi dari kehadiran buku.

Bahkan Roland Barthes, seorang filsuf dan kritikus sastra dari Perancis, berkata ketika sebuah pikiran telah dituangkan ke dalam buku, maka yang terjadi kemudian penulisnya telah mati. Kematian sang penulis, menurut Roland Barthes, selalu diikuti dengan kelahiran pembaca. Hal ini berarti saat karya telah dituangkan dalam buku, buku itu memiliki kehidupannya sendiri di tangan pembaca. Buku itu tidak lagi terbelenggu dengan tirani penulis. Pada saat membaca suatu karya, dia bebas terbang ke mana saja, menembus dinding tebal gagasan penulis, serta melampaui ‘kejeniusan’ penulis itu sendiri. Dengan kata lain, matinya penulis diikuti dengan kebangkitan pembaca untuk berpartisipasi menghasilkan pluralitas makna dalam teks.

Sejarah sudah mencatat ada banyak buku yang ketika selesai ditulis oleh penulisnya, ia hidup dan bahkan mampu mengubah wajah dunia. Pertanyaannya adalah mengapa buku-buku ini dikatakan mengubah dunia? Sesimpel karena ada pembaca yang berdialektika dengan apa yang ada di dalam buku tersebut. Proses dialogis antara pembaca dan buku yang dibacanya sesungguhnya yang menghasilkan perubahan pada wajah dunia. Maka ukuran kekuatan buku sebenar-benarnya adalah bukan sebanyak apa suatu buku terjual melainkan seberapa besar buku tersebut mampu menghadirkan “dialog” dengan pembaca-pembacanya.

Maka pokok perhatian kini beralih ke sosok pembaca. Ketika kita berbicara mengenai pembaca, maka tidak ada definisi demografik, psikografik, maupun studi lain yang dapat mengelompokkannya. Siapapun yang dapat membaca aksara, maka dia dapat disebut pembaca. Satu-satunya pembeda yang dapat diajukan adalah mengelompokkan para pembaca ini ke dalam kelompok besar pembaca pasif dan pembaca aktif.

Apakah definisi pembaca aktif? Yang dimaksud dengan aktif adalah mampu melakukan proses dialogis dengan bacaannya dan yang terpenting adalah mau berbagi. Kata kunci lainnya adalah berorganisasi/berkelompok dan berbuat.

Proses dialogis dapat dicapai dengan mempelajari cara membaca yang efektif, setingkat lebih tinggi dari kemampuan membaca biasa. Sedangkan aspek mau berbagi adalah kata kunci dari definisi aktif yang sesungguhnya, yakni kemampuan mereproduksi kembali hasil bacaan menjadi sebuah kalimat kerja yang mengubah dunia. Proses mereproduksi kembali hasil pembacaan adalah langkah awal dari pembaca aktif untuk menjadi pelaku perubahan di tingkat individual, lingkungan, masyarakat, hingga dunia. Jadi siapapun Anda, apapun latar belakang Anda, dapat menjadi pembaca aktif tanpa kecuali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s