Aktivis buku? Ada-ada aja…

Okta Wiguna, seorang wartawan media cetak yang kemudian hijrah ke wartawan digital, punya sebutan baru untuk saya. Disebut-sebut sebagai aktivis buku. Waktu saya tanya, apa alasannya? Dia cuma cengengesan.

Buat saya, sebutan itu berlebihan. Teman saya, Sekar Chamdi yang sehari-hari bergiat sebagai literacy campaigner barangkali lebih tepat mendapat julukan itu. Atau Hernadi Tanzil, peresensi yang sekarang sedang banyak mendampingi calon peresensi buku di komunitas Blogger Buku Indonesia. Sebut juga seluruh pembaca di jajaran lini depan Goodreads Indonesia, mereka lebih tepat dikatakan aktivis buku.

Sedang saya? Kegiatan baca semakin rendah seiring pekerjaan, jarang mengunjungi acara buku (setahun mungkin kurang dari 5 kali), ke toko buku tidak rutin, dan sekarang lebih memilih menghabiskan waktu bersama istri dan anak di rumah.

Aktivis? Lebay ah...

Jadi kalau kemudian mendapat lagi sebutan ini, seperti yang tercantum Harian Detik bulan Januari ini, saya cuma bisa tersenyum geli.

Ada-ada aja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s