Kebo Kenanga dan Nuansa Apokaliptik Manusia Hotel Salak Kamar 52

Kebo Kenanga memang gagal memukau para juri sayembara novel tahun 1975. Ia dituding sebagai penulis yang terlalu dipengaruhi karya Iwan Simatupang. Siapa sangka Kebo Kenanga adalah nama pena Si Manusia Hotel Salak Kamar 52 itu sendiri. Kontekstual ‘kah membaca Iwan Simatupang kembali? Menurut saya, masih!

Ajip Rosidi Memegang Naskah Iwan Simatupang

Ajip Rosidi Memegang Naskah Iwan Simatupang

SYAHDAN Ajip Rosidi sedang memeriksa tumpukan naskah-naskah di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin dan perhatiannya tercurah pada naskah ketikan salah satu peserta sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta. Naskah itu diketik dengan judul “Kooong” dan sesosok nama dicantumkan sebagai penulisnya. Ia menyebut dirinya sendiri: Kebo Kenanga.

Siapa tak kenal Kebo Kenanga? Dalam cerita babad, nama itu melekat erat pada Ki Ageng Pengging, penguasa daerah Pengging. Tetapi ia lebih dikenal lagi oleh karena penolakannya terhadap pemerintahan Demak. Ia adalah murid terbaik Syekh Siti Jenar dan atas dasar itu ajal Kebo Kenanga tuntas di tangan Sunan Kudus yang dikirim penguasa Demak pemegang otoritas wilayah dan agama. Namun tentu saja Ajip Rosidi tak lekas percaya begitu saja pada nama Kebo Kenanga ini. Jelas nama pena. Tetapi nama pena milik siapa?

Tanpa memeriksa lebih lanjut siapa Kebo Kenanga, juri di Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta sudah menolak naskah ini. Tuduhannya serius: karya penulis ini bagus, tapi penulis ini jelas-jelas amat dipengaruhi oleh Iwan Simatupang. Saat itu memang nama besar sastrawan Iwan Simatupang sedang naik daun, jadi sangat mungkin banyak penulis terpengaruh, termasuk si Kebo Kenanga ini. Maka alih-alih meloloskan naskah ini, mereka memberikan penghargaan pada Yudhistira Ardi Nugraha lewat karyanya Mencoba Tidak Menyerah dan Marianne Katoppo lewat karyanya yang berjudul Raumanen. Naskah itu kemudian ditimang-timang Ajip Rosidi dan ia sendiri mengecek alamat kirim si penulis: Hotel Salak Kamar 52, Bogor. Saat dicek inilah, Ajip Rosidi terperanjat! Kebo Kenanga yang dituduh amat dipengaruhi oleh Iwan Simatupang, ternyata tak lain dan tak bukan adalah Iwan Simatupang sendiri karena sejak pulang dari luar negeri, Iwan Simatupang menjadi manusia kamar di hotel tersohor itu.

Rekaan kejadian itu menemani pembaca setiap kali hendak membaca novel Kooong. Kisah pendek itu ditulis khusus Ajip Rosidi sebagai pengantar untuk novel terakhir Iwan Simatupang ini. Novel ini pernah diterbitkan oleh Pustaka Jaya tahun 1975 dan mungkin seandainya beruntung, pembaca bisa menemukannya di toko buku bekas. Penemuan naskah ini oleh Ajip Rosidi seolah menggenapi diktum Mukarovsky yang menyatakan suatu karya baru bermakna apabila telah “hidup” dalam diri pembaca. Sebelum bertemu pembaca, karya hanyalah sesuatu yang oleh Mukarovsky disebut artefak, yakni huruf-huruf yang tercetak di atas kertas belaka. Artefak ini baru menjadi obyek estetis setelah aktivitas pembacaan dilakukan. Dan dalam hal ini, saat naskah “Kooong” yang semula teronggok itu dibaca ulang sebagai karya terakhir Iwan Simatupang.

Novel "Kooong" karya Iwan Simatupang, Pustaka Jaya 1975

Novel “Kooong” karya Iwan Simatupang, Pustaka Jaya 1975

Bila dibandingkan dengan novel-novel Iwan Simatupang, menurut pendapat saya pribadi, novel Kooong tidak sebagus Merahnya Merah (Gunung Agung, 1968) yang meraih Hadiah Seni untuk Sastra Tahun 1970 dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Ziarah (Djambatan, 1969) yang memenangkan Hadiah Sastra ASEAN 1977 untuk jenis novel/prosa, dan Kering (Gunung Agung, 1972). Konflik yang biasanya digarap Iwan Simatupang dari perspektif “manusia perbatasan”, yang mempertanyakan eksistensi manusia dalam kehidupan secara intens dan padat, terasa sederhana dan tak melebar kemana-mana. Meskipun demikian sebagai novel, Kooong mengandung ide yang jelas, gamblang dan gampang dicerna. Kooong berhasil melancarkan kritik Iwan terhadap generasi yang melahirkan revolusi kemerdekaan. Kemerdekaan itu kemudian dikorupsi sedemikian rupa hingga generasi itu lupa bagaimana waktu mereka memperolehnya dulu. Semua orang berebut harta dan lupa pada segalanya hingga akhirnya terlantar.

Saya selalu menganggap apa yang ditulis Iwan Simatupang kental nuansa apokaliptik. Saat saya membaca novel Kering karyanya misalnya, saya berpikir apa yang ditulis Iwan Simatupang kini telah menjadi nyata di hutan-hutan kita. Saat orang-orang baru sekarang bicara tentang ‘global warming’, Iwan Simatupang sudah mendahului zamannya, hal itu sudah ditulisnya sejak tahun 1961 dalam novel Kering ini. Dengan lincah ia mendramatisir keadaan kemarau yang berkepanjangan, melontarkan kritik ke pihak-pihak yang mengeksploitasi alam dan tenaga nuklir untuk tujuan perang dimana percobaan yang dilakukan mengakibatkan musim jadi tak beraturan.

Maka begitu pulalah saat saya membaca novel Kooong ini. Saat orang membicarakan soal rebutan harta lewat politik dan kekuasaan sekarang ini, Iwan Simatupang telah menggambarkannya. Pak Sastro adalah sebuah metafor yang bisa kita gunakan untuk bapak-bapak bangsa kita dan perkutut yang berbunyi ‘kooong’ itu untuk cita-cita kemerdekaan yang telah hilang terbang entah kemana.

Terlepas dari segala keriuhan polemik antara HB Jassin, Boen S. Oemarjati, Wing Karjo, Alfons Taryadi, Goenawan Mohammad, dan sastrawan lain tentang karya dan kontribusi Iwan Simatupang dalam perkembangan sastra Indonesia, membaca kembali karya dari Kebo Kenanga ini sedikit banyak membantu “menyeimbangkan” kesehatan batiniah dari arus zaman yang kian menggila.

[dam]

3 responses to “Kebo Kenanga dan Nuansa Apokaliptik Manusia Hotel Salak Kamar 52

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s