Keniscayaan Hadirnya Fiksi Lintas-Media

Fiksi lintas-media tidak bisa dicegah kemunculannya. Senafas dengan kemajuan jaman, ia menetas dari kemudahan teknologi. Genre ini pun yang sekarang baru embrio, pada akhirnya akan berevolusi  hingga mencapai kematangannya.

Terminologi fiksi lintas-media bukan hal yang terlalu mengawang-awang untuk dipahami. Mudah saja definisinya. Fiksi lintas-media berarti sebuah kisahan/cerita disajikan dengan memadukan dua atau lebih medium yang berbeda. Semisal tulisan dan musik, tulisan dan audio-visual, atau tulisan-musik-serta audio-visual sekaligus.

Perpisahan Termanis karya Fahd Djibran: http://www.youtube.com/user/fahdisme#p/u/2/C-ri9o3qRW8

Ambil contoh karya Perpisahan Kita di atas. Cerita dalam karya fiksi lintas-media ini dikerjakan oleh Fahd Djibran, penulis muda produktif yang telah menulis A Cat in My Eyes (2008), Curhat Setan (2009), Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan, Menatap Punggung Muhammad (2010), Yang Galau, Yang Meracau (2011) dan belum lama ini meluncurkan Hidup Berawal dari Mimpi, karya kolaborasi bersama Bondan Prakoso & Fade2Black dalam bentuk “fiksi-musikal”. Karya fiksi lintas-media terbarunya ini disebutnya sebagai fiksi audio-visual, semacam hibrida sastra-musik-visual yang ia artikan sebagai cara baru menikmati/membaca fiksi dengan sensasi yang berbeda. Untuk mengerjakannya, ia menggandeng musisi dan videografer. Saya membayangkan para pembaca muda, yang memiliki tablet/smartphone “membaca” karya ini sembari duduk di convenience store atau duduk di taman memandang senja.

Hadirnya fiksi lintas-media ini tentu bukan tanpa sebab. Apa yang tersaji tadi merupakan upaya saling mengkawinkan yang juga telah diupayakan juga oleh para pegiat sastra sebelumnya. Dulu mungkin kita menyebutnya adaptasi, lalu kita mengenalnya dengan nama musikalisasi sastra, kemudian lahir proyek lintas-media bertajuk Rectoverso dari penulis Dewi Lestari yang menggunakan nama pena Dee.

1321620352545144656
Rectoverso karya Dee (Goodfaith, 2008)

Salah satu contoh, lagu dan cerita berjudul Firasat. Lagunya dipopulerkan oleh Marcell, sedang cerita digarap dengan apik oleh Dee dengan benang merah kalimat “Firasatku ingin kau cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi.”

Dalam lirik itu ada cerita soal seorang perempuan muda yang mengikuti pertemuan orang-orang yang punya kepekaan terhadap pertanda alam. Ia sendiri berada di klub Firasat itu karena sosok pria muda pencetus klub yang diam-diam dicintainya. Namun sejak seminggu lelaki yang ucapan-ucapannya bijak itu pergi, perasaan-perasaan aneh mulai menghampirinya seakan alam sedang berusaha menyampaikan pesan. Perasaan yang selalu datang saat orang-orang terdekatnya akan meninggal dunia. Firasat yang ditolaknya tapi sayangnya selalu tepat hingga akhirnya ia hanya bisa berseru dalam hati agar pria itu cepat pulang dan tidak pergi lagi. Dee kemudian membungkus karya lintas-medianya ini dengan slogan “Dengar Fiksinya, Baca Musiknya”. Menarik bukan?

Tentu saja terlalu terburu-buru untuk menentukan sukses tidaknya fiksi lintas-media seperti ini dari satu dua contoh. Tetapi bagi saya, fiksi lintas-media tidak bisa dicegah kemunculannya. Ia adalah sebuah keniscayaan. Ia senafas dengan kemajuan jaman yang semakin menuntut kehadiran terobosan-terobosan baru, ia menetas dari kemudahan teknologi yang telah membarengi kelahirannya. Genre ini sekarang baru embrio, namun pada akhirnya akan berevolusi  hingga mencapai kematangannya. Semoga.

[dam]

Contoh lain: Namamu – Sajak Fahd Djibran
Untuk melihat karya fiksi lintas-media Fahd Djibran, silakan mampir ke: http://www.ruangtengah.co.nr/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s