Masa Depan Perfilman Indonesia Adalah Sekarang

Kita tak perlu bernubuat setiap kali orang mempersoalkan masa depan perfilman. Yang perlu dilakukan adalah berbuat. Apa yang bisa diperbuat oleh penonton? Sederhana. Mari mulai menonton film-film Indonesia yang bermutu setiap kamis.

Kopdar Budaya 8

LANGIT seakan runtuh Jumat (25/11) lalu. Aura dari ruangan yang sejatinya menjadi cikal bakal percakapan penuh dinamika di antara orang-orang muda justru menjadi sekelam mendung di atas Jakarta. Apa yang terjadi? Kepada mereka yang menyimak isi Kopdar Budaya #8 bertajuk “Masa Depan Perfilman Indonesia” telah disodorkan berbagai fakta pahit situasi perfilman Indonesia. Dimulai dari dua sutradara muda berbakat: Ifa Ifansyah dan Andibachtiar Yusuf serta seorang aktor muda Oka Antara, masing-masing menyuarakan opini yang meresahkan mereka, kemudian berturut-turut penulis naskah Prima Rusdi dan publisis Ade Kusumaningrum menyoal berbagai kendala di dapur perfilman yang awam diketahui oleh penonton. Apa saja persoalan perfilman Indonesia?

Read more

Terima Kasih pada Guru Bahasa (dan Pelajaran Mengarang)

Berbahasa ternyata bukan persoalan sederhana. Itulah mengapa perlu memberikan apresiasi pada guru-guru bahasa kita. Termasuk memberi perhatian pada pelajaran mengarang yang telah mereka berikan sebagai metodologi pembebasan berpikir. Terima kasih para guru bahasa.

Sumber: http://seadanyadeh.blogspot.com/
Sumber: http://seadanyadeh.blogspot.com/

TERIMA KASIH para guru, terutama guru bahasa. Seandainya tidak ada para guru bahasa, saya akan bertahun-tahun menyebut hewan berkaki empat penghasil susu segar di dekat rumah sebagai ’sampi’ dan menyebut sejawatnya sebagai ‘kebo’ dan memakai bahasa ‘ane’ dan ‘ente’ untuk menyebut diri dan orang lain serta tidak peduli soal SPOK, gatra, dan lainnya.

Belakangan ini baru saya sadar bahwa berbahasa bukan soal berkomunikasi saja, bukan sekedar menyampaikan pesan. Dalam berbahasa ada banyak yang perlu dipelajari, mulai dari memilih kosa kata yang pas, menggunakan tata bahasa yang tepat, logika dan koherensi kalimat, hingga efektivitas kalimat. Siapa yang bisa membantu mempelajari berbahasa, sudah barang tentu adalah para guru.

Read more

Antara Cinta dan Benci: Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dialu-alu sebagai sahabat terbaik penulis, namun tak jarang justru dapat menjadi musuh. Dicari-cari sebagai rujukan utama, tetapi dapat dikesampingkan begitu saja. Inilah cerita tentang kamus, tempat samudera kata-kata, dan segudang misteri di balik proses pembuatannya.

Sumber: http://th06.deviantart.net/fs16/150/i/2007/134/0/b/Love___Hate_by_scarlet_kiss.jpg

BOLEH diuji ke setiap penulis, apakah mereka memiliki Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) atau tidak dan bagaimana mereka memposisikan kamus tersebut dalam proses kerja mereka. Umumnya terbagi dua. Di satu sisi, terdapat para penulis yang memposisikan KBBI sebagai sahabat terbaik mereka, yang tidak bisa tidak harus memeriksa setiap kata untuk mengetahui kebenaran artinya, dan oleh karenanya mereka berpikir perlu untuk memiliki KBBI. Sedang di sisi lain, ada yang berpikir KBBI memasung kreativitas kata, setiap kata dipenjarakan dalam artian yang baku dan kaku, dan dengan sendirinya mereka “mengemohi” kehadiran kamus dalam proses kerja kreatifnya. Ujian ini sekaligus memperlihatkan bagaimana kamus diperlakukan dalam keseharian kebahasaan kita.

Read more