Membuat Buku Cerita Sendiri Untuk Anak

Saya seorang ayah dari anak perempuan yang suka cerita. Sejak bayi, anak saya sudah terbiasa untuk menikmati cerita. Biasanya kami bacakan dari buku-buku anak. Terkadang komik. Cerita dari Pak Raden. Cerita dari Clara Ng. Cerita dari luar. Cerita dari buku-buku anak yang Islami pun kami bacakan. Semakin lama semakin sulit mencari bacaan yang sesuai untuk rasa ingin tahunya yang luar biasa. Pikiran anak memang luar biasa cepat berkembang. Hari ini ia mencerap soal lebah, esoknya dia sudah ingin menirukan tingkah polah lebah, termasuk anak saya ini.

Satu hari istri saya punya gagasan mencari kostum lebah. Akhirnya ia dapat dari baju renang yang kemudian dimodifikasi dengan tambahan sayap. Anak saya langsung menjiwai karakter lebah ini. “Queen Bee” begitu istri saya mulai memanggilnya.

Kemudian saya berpikir, kalau ternyata begitu sulit mendapatkan cerita anak yang sesuai dengan tumbuh-kembangnya anak, kenapa tidak mencoba menulis sendiri cerita yang sesuai dan tentu saja dengan gambar yang sesuai dengan lokalitas keseharian anak. Sesuatu yang ia kenal dengan baik: dirinya sendiri dan rumahnya sendiri. Maka saya melontarkan gagasan ini ke istri saya. “Bagaimana kalau ultah anak kita nanti, kita buatkan buku cerita?” Ide saya disambut baik.

Maka saya minta teman saya menjadikan anak saya sebagai karakter ratu lebah lengkap dengan mahkota tiara. Acuy segera mengolahnya dengan menggunakan foto tadi dan jadilah LUX THE QUEEN BEE. Karakter ini yang menjadi tokoh utama di cerita saya nanti.

Untuk referensi bercerita saya pilih model buku cerita Pak Raden yang punya teknik bertutur yang saya suka. Ceritanya tidak harus penuh dengan nasihat, keseharian saja. Apa yang saya suka dari Clara Ng pun digunakan, keliaran imajinasi. Tetapi pada akhirnya, saya memilih teknik tutur yang saya kembangkan sendiri.

Saya kembangkan ceritanya seperti ini. Di bagian awal seusai memperkenalkan tokoh Ratu Lebah, langsung disambung plotpoint, sesuatu yang tak terduga dan harus segera diatasi si Ratu Lebah ini, yakni ia kehilangan mahkota tiaranya. Kemudian disambung dengan petualangan Ratu Lebah mencari mahkotanya dan di saat ia berpikir akan menemukannya dengan mudah, ternyata semakin lama semakin tidak ada harapan. Tetapi ternyata saat Ratu Lebah mencari lagi, ia berhasil temukan mahkotanya itu tak jauh dari tempatnya berada, sedang dimainkan oleh bayi-bayi lebah.

Cerita ini bisa saja ditutup dengan wejangan “Jangan menaruh barang berharga sembarangan” tetapi saya memilih membiarkannya terbuka. Saya sengaja biarkan anak saya yang menyimpulkan sendiri atau tidak menyimpulkan pun tak mengapa. It is a good story anyway. Istri saya menjadi editor bagi cerita ini karena ada dua bahasa yang digunakan selain bahasa Indonesia. Sisanya seperti perwajahan dibuat simpel saja, jangan sampai merusak cerita.

Maka jadilah buku cerita sendiri untuk anak saya sebagai kado buatnya di hari ulang tahun keempat. Semoga buku cerita ini bisa dinikmati bukan saja oleh anak saya, tetapi paling tidak teman-teman satu kelasnya karena setiap anak mendapat buku ini di setiap tasnya.

Kenapa tidak mencoba membuat cerita anak seperti saya juga?

4 responses to “Membuat Buku Cerita Sendiri Untuk Anak

  1. Saya juga ingin membuat buku cerita anak, tapi bingung untuk membuat gambarnya. Saya juga tidak punya teman yang bisa nggambar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s