Perlunya Dukung Stop Bakar Buku

Librisida kembali terjadi di Indonesia. Lembar-lembar buku kontroversi itu terbakar dalam api yang kian lama kian besar. Menyala merah dan menyisakan abu dan debu. Inikah wujud baru pelarangan buku yang perlu diwaspadai?

LIBRISIDA memiliki sejarah demikian panjang. Ada begitu banyak sebab dan latar belakang mengapa buku dilarang dan dihancurkan. Majalah Times mengungkapkan bahwa di dunia barat ‘tradisi’ melarang suatu penerbitan setidaknya bisa dirujuk kembali pada tahun 1557 yakni ketika Paus Paul IV menetapkan “daftar buku-buku terlarang” (The Index of Prohibited Books). Sebuah ketetapan berisi daftar buku-buku apa yang haram dibaca dan dikeluarkan untuk melindungi orang Katolik dari ide-ide kontroversial.

Librisida dalam bentuk. “pelarangan” termasuk bentuk kekerasan yang lembek dan baru. Sejarah mencatat, ketakutan dan kebencian terhadap buku seringkali lebih banyak mengambil bentuk-bentuk penghancuran yang ekstrem seperti pembakaran buku!

Kebencian terhadap buku, yang dilakukan dengan aksi librisida, baik dalam bentuk pelarangan, sensor, penghancuran perpustakaan, serta pembakaran buku-buku itu di hadapan umum adalah gejala suatu zaman. Ia menandai proses sosial-politik yang kompleks: kemandegan, konflik, pergeseran dalam pandangan dunia suatu masyarakat.

Pembakaran buku juga sering menandai akan munculnya sebuah rezim baru. Aksi fasistik tidak hanya membakar buku-buku, tetapi juga melakukan propaganda zaman baru untuk menumbangkan wacana/sistem kepercayaan yang lama. Kita tentu ingat bagaimana Nazi melakukan kegiatan pembakaran buku secara masif dan kemudian digantikan dengan buku-buku yang ditulis sendiri oleh Adolf Hitler.

Pembakaran buku bukan tidak mungkin didukung oleh negara/pemerintah. Biasanya librisida ini dilakukan untuk menghancurkan buku-buku berdasarkan argumen atau penilaian moral dari suatu otoritas moral tertentu, semisal bertentangan dengan agama atau ideologi yang disokong negara/pemerintah.

Pada zaman sekarang ini, buku dianggap mewakili gagasan humanisme, sehingga librisida dalam bentuk pelarangan dan penghancuran buku mencerminkan kerja dan pertarungan intelektual dalam masyarakat. Dengan melakukan librisida, ada gagasan yang dihambat untuk tumbuh. Ini sebetulnya yang sedang terjadi belakang hari ini di Indonesia.

Pada hari Rabu, 13 Juni 2012, Gramedia dianjurkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk membakar buku “5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia” karya Douglas Wilson di halaman belakang Bentara Budaya, kompleks Gramedia, Jakarta. Sebelum dan sesudahnya, pembakaran buku yang sama juga dilakukan di Cakung (Jawa Barat), Surabaya, Semarang, Makassar, dan Pekanbaru.

Buku tersebut dibakar menyusul peristiwa-peristiwa berikut:

- Munculnya surat pembaca berjudul “Buku 5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia Menyesatkan”, yang ditulis Syahruddin di harian Republika pada Jumat, 8 Juni 2012. Syahruddin, tertulis warga Depok, keberatan atas isi buku pada halaman 24, “Selanjutnya ia (Muhammad) memperistri beberapa wanita lain. Ia menjadi seorang perampok dan perompak, memerintahkan penyerangan terhadap karavan-karavan Mekah,” dan “Muhammad memerintahkan serangkaian pembunuhan demi meraih kendali atas Madinah, dan di tahun 630 M ia menaklukkan Mekah.”

- Permintaan maaf dari Direktur Utama Gramedia Wandi S Brata mewakili pihak penerbit Gramedia kepada umat Islam Indonesia di harian Republika atas “keteledoran” mereka dan pernyataan janji untuk menarik buku yang dicetak sejumlah 3.000 eksemplar tersebut. Pada Sabtu, 9 Juni 2012, muncul perintah penarikan buku oleh Gramedia Pustaka Utama.

- Pelaporan anggota FPI kepada Polda Metro Jaya pada Senin, 11 Juni 2012 dengan nomor LP/1985/VI/2012/PMJ/Ditreskrimum atas “penistaan agama” yang dilakukan penerbit Gramedia.

- Permintaan Majelis Ulama Indonesia (MUI) kepada pihak Gramedia pada Selasa, 12 Juni 2012, untuk memusnahkan buku tersebut.

Bila ditarik mundur ke hari sebelumnya, aksi-aksi librisida dalam bentuk lain telah lebih dulu muncul dan mendahului. Pembubaran paksa diskusi buku Irshad Manji di komunitas Salihara pada bulan Mei 2012, kemudian penyitaan atas buku-buku yang dinilai radikal di Madura pada Februari 2012. Maka sebetulnya, librisida kian kerap dilakukan dan makin vulgar dilakukan tanpa malu-malu.

Bentuk Ketakutan Pada Pluralisme
Dalam paham hak asasi, prinsip Siracussa yang diacu oleh PBB, pelarangan buku bisa dilakukan sejauh tidak melanggar prinsip-prinsip demokrasi dan melanggar Konvensi Hak-hak Sipil dan Politik. Inti dari sikap di atas adalah ‘pelarangan buku dibolehkan sejauh dalam rangka melindungi hak asasi’ dan dilakukan dalam kerangka negara hukum demokratis’. Dengan itu artinya setiap pelarangan buku mesti diuji dengan pertanyaan: apakah buku yang dimaksud memang berisi ancaman terhadap hak asasi (misalnya menganjurkan penyiksaan, kebencian ras, intoleransi dan pelecehan terhadap perempuan). Kedua, pelarangan tidak dapat dilakukan secara sewenang-wenang. Pelarangan harus diputuskan di muka pengadilan. Ketiga, si penulis harus diberi hak jawab mengenai bukunya di muka pengadilan.

Setelah Oktober 2010, Mahkamah Konstitusi telah menghapuskan kewenangan Kejaksaaan Agung untuk melarang buku. Pengadilan ditetapkan sebagai institusi yang dapat memutuskan penarikan buku bila terbukti “bersalah”. Namun belum genap dua tahun, librisida muncul dan semakin tidak terkendali. Kebencian dan intoleransi bebas beredar dan termanifestasi dalam tindakan librisida yang akut.

Mereka yang melakukannya, hanya menerima demokrasi setengah hati. Prinsip mereka adalah menerima demokrasi tetapi menolak pluralisme dan perbedaan ide. Sebagai penguat hukum, mereka mengutip pasal 156 KUHP yang sering dianggap sebagai pasal karet yang mampu menyeret mereka yang dianggap menyinggung pihak tertentu dengan ganjaran 5 tahun penjara. Sebagai akibatnya dari itu semua, buku-buku berhaluan kiri dimusnahkan, lalu kemudian buku-buku yang berseberangan diganyang. Hasil akhirnya dapat kita tebak, demokrasi kita akan berujung pada demokrasi yang dihuni oleh satu golongan ideologi dan dengan otoritas kebenaran tunggal. Demokrasi tanpa pluralisme.

Terbitnya Surat Protes “Stop Bakar Buku”
Atas tindakan pembakaran buku yang terjadi baru-baru ini, sehari kemudian terbit Surat Protes: “Stop Bakar Buku” yang ditujukan kepada Wandi S Brata (PT Gramedia Pustaka Utama), KH Ma’ruf Amin (Majelis Ulama Indonesia), Habib Rizieq Syihab (Front Pembela Islam), Jenderal Timur Pradopo (Kepolisian Republik Indonesia) dan pihak-pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam pembakaran buku di halaman kantor penerbit Gramedia pada hari Rabu, tanggal 13 Juni 2012.

Surat protes itu menyuarakan keprihatinan warga negara Indonesia atas tindakan pembakaran buku yang disebutkan sebagai “tindakan yang merusak kekayaan intelektual, budaya, dan moral sekaligus merupakan contoh buruk yang mengajarkan bahwa ketidaksepahamanan diselesaikan dengan cara-cara pemusnahan.”

Lembaga-lembaga yang disebut di dalam surat protes itu, yakni Gramedia, MUI, FPI, dan POLRI diminta untuk mencegah terjadinya pembakaran buku sebagai bukti tegaknya supremasi hukum atas tindak premanisme. Juga meminta pemerintah segera merevisi pasal-pasal yang membelenggu kebebasan berpikir dan berpendapat sesuai Konstitusi seperti pasal 156 KUHP yang digunakan FPI untuk memperkarakan Gramedia.

Munculnya surat protes ini merupakan upaya kecil untuk meredam librisida yang kian menjadi-jadi dan saya pikir perlu mendapat dukungan banyak orang yang peduli akan masa depan bangsa Indonesia ini. Dukungan kepada Surat Protes “Stop Bakar Buku” ini bisa diberikan melalui situs Change.org Indonesia di tautan: http://www.change.org/id/petisi/gramedia-mui-fpi-polri-stop-bakar-buku

Sudah seharusnya kalau kita mengidamkan masyarakat demokratis yang sehat, kita lebih dewasa dan dingin menghadapi dan berdialog dengan setiap gagasan, bahkan gagasan paling kontroversial sekalipun. Saat-saat menghadapi gagasan di dalam buku adalah saat-saat dimana kita dapat menilai apakah kita masih dikungkung oleh suatu kebencian fasistik ataukah makin cukup terbuka untuk maju. Saya memilih untuk menunjukkan kita semakin maju dan bukan sebaliknya. Bagaimana dengan Anda?

[dam]

Catatan: Tulisan ini mengutip draft paper Robertus Robet untuk materi Kuliah Umum mengenai ‘Pelarangan Buku dalam Politik Kebudayaan Indonesia’, kerjasama Elsam dan Dewan Kesenian Jakarta, Rabu, 17 Maret 2010. Sedang aksi gerakan Stop Bakar Buku mengutip dari isi Surat Protes di Change.org Indonesia.

14 responses to “Perlunya Dukung Stop Bakar Buku

  1. masalahnya kan, dalam buku itu ada penghinaan. mungkin bagi orang lain ‘sekedar’ kalimat2 biasa, tapi bagi orang lain (dalam kasus yang sekarang, umat islam), itu terasa menghina. siapa yang bisa diam saja kalau seseorang yang disayangi dihina demikian?

    kalau tidak ingin ada yang merasa terganggu, ya jangan menghina. sesederhana itu saja rumusnya.

    • Saya sudah membaca buku ini dan betul di halaman 24 dan 25 tercantum kalimat yang menunjukkan betapa si penulis terkesan asal-asalan menulis tanpa riset yang memadai dan bisa jadi juga tidak tersedianya kajian sejarah Islam yang dapat dipakainya untuk menulis sejarah/kisah Nabi Muhammad dengan tepat dan benar.

      Mudah sekali tulisan-tulisan tersebut dikategorikan penghinaan/penistaan agama dan siapapun yang memiliki keyakinan agama Islam akan bereaksi, minimal heran, tidak suka, atau bahkan marah luar biasa.

      Tetapi semarah-marahnya kita pada isi tulisan yang dianggap menghina/menistakan agama ini, kedepankan kedewasaan. Tempuhlah jalur hukum, memuat surat protes di media, menulis keberatan-keberatan atas isi buku ini ditujukan ke penulisnya dan penerbitnya, kedepankan apa yang tidak berkenan. BIarkan mekanisme komunikasi yang sehat ini yang berkembang.

      Jangan biarkan yang muncul kemudian adalah tekanan, permusuhan, situasi yang mendorong hal-hal yang bertentangan harus diakhiri dengan membakar buku, entah siapapun yang melakukannya.

      Karena membakar buku bukan sekedar menyalakan api ke teks-teks di kertas, tetapi membakar juga pemikiran orang yang berbeda.

      [dam]

      • mungkin pertimbangan para pembakar buku adalah beratnya penghinaan tersebut. (apalagi, kalau tidak salah, hukuman bagi penghina Nabi sangatlah berat). agar pengarangnya sendiri ‘sadar’ bahwa ada batasan yang tidak boleh dilanggar, karena menyangkut perasaan pembaca, yang tidak pernah berbuat salah padanya.

        bisa saja, bila buku itu tetap beredar, malah lebih banyak yang tersinggung dan reaksinya lebih lagi.

        yah, reaksi orang berbeda-beda. ada yang bisa sabar dan menempuh jalur dialog. ada yang reaktif, frontal, dan main bakar aja.

        kalau penulis/penerbitnya mau mengalah, misalnya, nanti dicetak ulang dan ada halaman yang diperbaiki. dengan begitu, maksud buku untuk menyampaikan ilmu pengetahuan tetap bisa tercapai.

  2. Wah, saya tidak baca buku itu. Apakah halaman 24 dan 25 merupakan tulisan yang tidak ada dasar rujukannya? kalimat “Selanjutnya ia (Muhammad) memperistri beberapa wanita lain. Ia menjadi seorang perampok dan perompak, memerintahkan penyerangan terhadap karavan-karavan Mekah..” tidak terlihat seperti penghinaan menurut saya, bisa saja merupakan kesalahan referensi sejarah yang digunakan penulis.

    Benarkah Muhammad memperistri beberapa wanita? benarkah Muhammad merampok? apakah benar ada penyerangan terhadap karavan? apakah merampok dimaksud adalah menjarah harta dalam perang? semua kan bisa diklarifikasi.

  3. jika saya berbeda dengan anda, lalu saya menulis buku mencaci maki anda,menghina anda dan bukunya saya sebar luaskan, apakah harus menunggu sampai selesai pengadilan dan terbukti benar atau tidaknya tuduhan saya kepada anda baru buku tersebut ditarik dari peredaran..?

  4. Itulah Buku…

    Buku bukan saja menjadi jembatan untuk seseorang dapat sampai ke negeri yang sama sekali belum mereka kunjungi tapi juga bahkan ke negeri yang sama sekali tidak pernah ada (Buku dalam Fantasi ilusi salah satu sisi otak manusia).

    Buku juga mempertemukan paradigma berfikir setiap umat manusia dimanapun mereka berada, baik itu teman dekat, tetangga, bahkan sampai orang-orang yang sama sekali belum pernah ditemui secara tatap muka (Dalam hal ini gagasan dan pandangan. Lebih sensitif memang tapi itulah kenyataannya, mungkin ini adalah salah satu penjelmaan dari mahluk yang dinamakan manusia, walaupun wujud dan bentuknya sama namun pasti ada perbedaan diantara satu dengan yang lain…jika saya tidak salah ini adalah merupakan penjelmaan kebebasan berfikir ) * Tolong koreksi Jika saya salah..

    Berikutnya, buku juga merupakan alat. Alat Perjuangan, Pembebasan Tirani – Baik tirani berpendapat maupun tirani fisik, seperti jaman Penjajahan dan Pembodohan sejarah – Katakanlah Sejarah Bangsa nya Sendiri ( Dalam hal ini buku menurut saya sebagai doktrin, pembelajaran, dan Gambar atau photo dari apa yang terjadi dalam kehidupan sependeritaan dan solidaritas ).

    Beberapa tokoh Penulis Pada Jaman Kemerdekaan harus mengganti namanya dan harus rela menerawang melalui batin dan sisa-sisa ingatan segala peristiwa yang dialami melalui jeruji Penjara. Beberapa Nama tersebut adalah; Douwes Dekker, seorang Belanda, yang mengganti namanya menjadi Multatuli demi melawan feodalisme VOC/Belanda, demi kemerdekaan bangsa Indonesia / Jawa. Bung Karno yang berjuang melawan Penjajahan Baru Belanda dan Jepang demi Kemerdekaan, serta Pramoedya Ananta Toer yang berjuang demi apa yang diarasakan adalah benar melalui segala tulisannya, selain juga R.A. Kartini yang merupakan pelopor Pertama Perjuangan Indonesia Baru melawan Pembodohan dan Diskriminalisasi serta Feodalisme “yang sebenarnya sudah ada dalam Kerajaan di Jawa sebelum Penjajahan Belanda dimulai”

    Korelasi terhadap pembakaran buku ini dalam presfektif saya, adalah:
    1. Saya pribadi menolak jika ada buku yang bersifat dualistis. Artinya Jangan kaitkan kerangka asumsi berfikir penulis dimasukkan kedalam pemikiran ataupun Tafsir Agama, Karena Agama adalah bersifat Keyakinan dan tidak dapat dilogikan. *Ini menurut saya – Jika ada pandangan lain saya persilahkan saja.

    2. Saya Jelas sangat menolak jika ada pembakaran buku…apapun buku itu. Alasan saya sederhana saja. Setiap orang boleh berpendapat, setiap orang boleh menuliskan apa yang mereka rasa, setiap orang berhak bersuara, dan setiap orangpun sangat berhak untuk mau terpengaruh atau tidak mau terpengaruh terhadap suatu tulisan.

    Sederhana saja, kembali kepada keunikan manusia, bahwa manusia walaupun sama dalam bentuk pasti ada perbedaan.

    Karena itulah ada Baik dan ada Buruk, seperti yang selalu bergelut dalam hati dan Jiwa setiap manusia (Kedua Sifat yang tidak pernah hilang dalam kehidupan manusia sejak manusia bertambah jumlahnya).

    Semua kembali kepada Kekuatan yang lebih Tinggi yang diyakini oleh manusia itu sendiri.

    Mohon Maaf jika ada perkataan yang kurang berkenan. Bukan berarti saya tidak punya sisi baik ataupun tidak memiliki Kekuatan yang lebih tinggi dari saya sebagai manusia.

    *Respect*

    • Terima kasih. Sungguh point of view yang menarik. Dari banyak segi kita bisa melihat persoalan membakar buku ini sebetulnya. Yang justru saya tidak bisa memahami, mengapa ada orang yang percaya/setuju dengan membakar buku ia merasa telah menaklukkan pikiran. Itu simbolisasi saja, sebenar-benarnya mereka yang membakar tidak memusnahkan apa-apa, malah membuat diri sendiri tampak bodoh. Serius, mereka yang menyetujui di mata saya nilainya drop/jeblok.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s